MIDDLE EAST

10 reasons to visit the Middle East’s most easygoing country
DUBAI
Tukang-jalan.com – AKHIR April lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di Dubai, salah satu dari tujuh emirat di UEA bersama Tim Wonderful Indonesia (WI) Kementerian Pariwisata. Tim WI berangat ke Dubai dalam rangka mengikuti kegiatan Arabian Travel Market (ATM) 2017, salah satu pameran industry pariwisata an perhotelah terbesar di dunia, yang diselanggarakan di dubai International Conference and Exhibition Centre, Dubai World Trade Centre, 24-27 April.
Penerbangan langsung dari Jakarta ke Dubai hampir delapa njam. Begitu mendarat di Bandar Udara Internasional Dubai dan memasuki gedung terminal bandaranya, langsugn terasa kesan megah dan mewah emirat, yang dipimpin Dinasti Al Maktoum itu. Dua jurnalis yang ikut dalam rombongan tim WI diberi kesempatan mengeksplorasi Dubai. Di sela-sela kegiatan pameran ATM, kami pun jalan-jalan.
SELASA, (25/4) Pukul 17.00-18.00
SATU jam sebelum kegiatan pameran hari kedua ditutup, kami meninggalkan Dubai World Trade Centre menuju The Dubai Mall. Untuk mencapai mal terbesar di Dubai itu, kami menumpang mobil seorang teman dari Indonesia yang tinggal dan bekerja di Dubai. Perjalanan dari Dubai World Trade Centre ke The Dubai Mall tidak sampai setengah jam. Meski kendaraan cukup padat, jalanya tidak macet seperti di Jakarta.
Di mal yang luasnya diperkirakan 50 kali luas lapangan sepakbola dan memiliki 1.200 gerai itu, kami hanya window shopping. Sebab, harga barang-barang di mal tersebut relative mahal. Seperti yang dilakukan sebagaian pengunjung lainnya, berfoto-foto di mal tersebut lebih asyik daripada belanja. Apalagi, ada beberapa tempat menarik untuk berfoto, seperti akuarium raksasa dengan berbagai jenis hewan laut di dalamnya, air mancur, dan lapangan seluncur es (ice sketting).
Souk Al Bahar Pukul 18.15-20.00
Setelah berkeliling di dalam The Dubai Mall, kami keluar menuju Souk Al Bahar (pasar pelaut), pusat perbelanjaan bernuansa Arab kuno. Lokasinya masih di kompleks Dubai Mall. Tempat pejalan kaki menuju ke pasar pelaut menghadap Air Mancur Dubai dan bangunan tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Sebelum masuk ke Souk Al Bahar, kami menikmati matahari terbenam di balik Burj Khalifa. Tepat pukul 18.30, air dari semacam danau biru yang tenang menyembur ke atas dengan diiringi lagu. Air mancur itu seolah menari-nari mengikuti irama lagu dan memancarakan cahaya terang. Kerlap-kerlip lampu dari Burj Khalifa membaut tarian air mancur yang berlangsung tiga menit itu semakin memukau. Di Souk Al Bahar, kam ipun hanya sekadar window shopping.
Jumeriah Public Beach Pukul 10.30-11.30
Seusai sarapan di Hotel Grand Excelsior, tempat menginap, kami diajak pejabat Kementerian Pariwisata mengunjungi beberapa tempat di Dubai sebelum kelokasi pameran ATM. Dari hotel, kami meluncur menuju pantai umum Jumeirah. Perjalanan dari hotel ke pantai tersbut sekitar 30 menit. Di pantai berpasir putih itu, sebagian wisatawan madni dan berjemur. Sebagian lainnya hanya berfoto-foto dengan latar Burj Al Arab Dubai. Dari pantai tesebut, ktia dapat melihat Burj Al Arab, salah atu hotel paling mewah dan menawan di dunia dari jarak dekat.
Palm Jumeirah Pukul 10.45-12.30
TEMPAT ini beraa di Pulau Palem (Palm Island), yang dikenal sebagai pulau buatan di Dubai. Di daerah ini, pembangunan pusat perbelanjaan, hotel, dan hunian mewah masih terus dilakukan. Di sini, kami hanay berfoto dengan latar laut biru dan gedung-gedung pencakar langit sambil melihat orang beramin ski air.
Burj Khalifa Pukul 12.45-13.15
Ke Dubai, tanpa ke Burj Khalifa memang terasa kurang lengkap. Apalagi, gewdung tertinggi di dunia dengna ketinggian 828 m ini menjadi semacam ikon Dubai. Kali ini, kam imasuk ke area Burj Khalifa, tetapi tidak masuk sampai ke dalam gedung yang terdiri atas 160 lantai ini. Karena keterbatasan waktu, kami hanya berfoto di depan Burj Khalifa.
Restoran Al Tawasol Pukul 13.30-14.30
KARENA sudah tiba waktunya untuk makan siang, kami mampir ke restoran Al Tawasol di Jalan Abu Baker Al Siddique, Dubai. Ini merupaka nkedua kalinya kami mampir ke restoran milik orang Lebanon ini. Sebelumnya, wkatu baru tiba di Dubai, Minggu siang, rombongan dari Jakarta juga langsung menuju restoran ini untuk makan siang.
Restoran Al TAwasol menajdi salah satu tempat makan favorit orang Indonesia yang berkunjung ke Dubai. Restoarn ini menyajikan masakan tradisional Arab dengan menu ayam, daging kambing atau domba, dan ikan. Pilihan menu tersebut ditaruh di atas nasi kuning dalam wadah piring besar. Satu pirign bias untuk makan 5-6 orang. Makanan itu juga dilengkapi dengan sayur lalapan. Selesai makan, kita bisa menikmati teh dicampur daun mint.
Pukul 15.00-20.30 Desert Safari Dubai
SELESAI makan siang, kami menuju lokasi pameran ATM di Dubai World Trade Centre. Namun, kali ini tidak masuk ke lokasi pameran. Agenda kam iselanjutnay adalah menikmati safari guru Dubai. Tiket untuk menikmati petualangan di padang gurun sudah dibeli sehari sebelumnya di Dubai Mall seharga USD 73 atau 265 AED (dirham UAE) per orang.
Pukul 15.00 kami dijemput di Hotel Ibis, kompleks Dubai World Trade Centre dengan menggunakan mobil Toyota Land Cruiser. Saat masuk ke mobil, di dalmanya sudah ada empat penumpang lainnya. Empat penumpang di mobil tesebut adalah turis dari Rusia. Begitu kami naik, sang sopir bernama Ismail langsung memacu kendaraannya kea rah luar kota.
Sepanjang jalan, ia memutar lagu-lagu Arab dengan nada rancak. Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, mobl berhenti di sebuah toko yang menjual makanan dan minuman serta aneka pernak-pernik. Di depan toko itu sudah ada belasan mobil serupa yang berhenti. “Kalau sudah 25 mobil, baru kita jalan. Sebab, kita harus jalan beriringan,” kata Ismail. Setelah hampir 30 menit singgah, perjalanan dilanjutkan kembali. Kendaraan melaju beriringan. Sekitar 20 menit kemudian langsung masuk ke gurun pasir. Sebelu memulai safari gurun ,ban mobil dikempiskan. Setelah itu, mobil langsung melaju melewati bukit-bukit pasir untuk melakukan petualangan yang disebut dune bashing (menampar bukit pasir).
Supir kami memanuver mobilnya, menaiki bukit padang pasir, lalu turun melalui sisi bukit yang curam. Pasir pun berhamburan hingga mengenai kaca mobil. Petualangan yang penuh emosi itu benar-benar memicu adrenalin. Kami pun berteriak karena begitu tegang. Setelah lebih kurang setengah jam bermanuver, mobil berhenti di suatu titik kumpul. Di situ kami singgah untuk berfoto.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju titik lain. Di titik perhentian kali ini, kita bisa naik unta dan motor ATV. Setelah itu, kami berjalan masuk ke tempat semacam kamp di padang gurun. Di sana, ada tenda-tenda khas Arab dengan sebuah panggung di tengah-tengah. Di titik terakhir ini, kami menikmati makakan dan minuman yang disuguhkan. Ketika hari sudah malam, dilanjutkan dengna menikmati makan malam sambil menonton pertunjukkan tarian dan musi khas timur Tengah.
.[*/tukang-jalan.com – Sumber : kompas, Minggu, 21 Mei 2017 | oleh : JUMARTO YULIANUS]

Excerpt : Dubai memang menyilaukan. Pandangan kita tidak hanya disilaukan panas terik mataharinya yang mencapai 40°C, tetapi juga disilaukan kemegahan dan kemewahan kotanya. Kota yang terletak di sepanjang pantai selatan Teluk Persia di Jazirah Arab ini dipenuhi gedung-gedung pencakar langit. Mobil-mobil supermewah berseliweran di jalanan. Kota yang berjarak 6.552 km dari Jakarta tersbut ibarat oasis di tengah padang gurun yang tandus.

Advertisements