GAYA HIDUP | LANGGAM – Saat Aplikasi Kesehatan dan Ojek Daring “Jadian”

Dahulu, untuk mendapatkan layanan kesehatan tidaklah sederhana. Apalagi di kota besar yang “gemuk” penduduk dan kemacetan. Dibutuhkan berjam-jam untuk ke rumah sakit, menanti giliran konsultasi, hingga mencari obat. Namun, berkat kemajuan teknologi digital, kerumitan itu lekas terlewati.

HilariusJourney.WordPress.comANDA tidak mesti keluar rumah, mencari ojek untuk ke rumah sakit atau mengantre resep dari dokter sebelum ke apotek. Layanan kesehatan dan pesan antar obat medis saat ini dapat dirasakan hanya dengan satu jari melalui aplikasi kesehatan.

Aplikasi layanan kesehatan dan pesan antar obat ini hadir ketika Halodoc 1.0 “jadian” dengan Go-Med, bagian Go-Jek, dan melahirkan Halodoc 2.0 Melalui aplikasi ini, orang tinggal klik kategori Go-Med yang langsung terhubung dengan Halodoc 2.0.

Saat ini, dalam Play Store, tercata sekita 10 juta pengguna telah mengunduh aplikasi Go-Jek, yang juga berpotensi mengakses Halodoc gratis asalkan jaringan internet tersedia. Fantastis!

Setelah mengisi sederet pertanyaan verifikasi, pengguna pun dapat memanfaatkan layanan kesehatan, seperti konsultasi dengan dokter secara daring berpa percakapan teks atau konferensi video melalui telepon pintar. Tahap konfirmasi ini untuk menjamin kerahasiaan data pengguna.

Jika diperlukan, dokter yang dipilih akan memberikan resep. Selanjutnya, untuk membeli obat, pengguna tinggal memilih kategori pharmacy delivery sebelum menentukan obat yang dibutuhkan.

“Dalam 30 detik, pengguna akan mengetahui di mana saja obat itu tersedia, plus perbandingan harganya,” ujar Jonathan Sudharta, Founder sekaligus CEO halodoc, saat peluncuran Halodoc 2.0 di Jakarta, Selasa (16/5)/ simulasi penggunaan aplikasi juga dilakukan.

Setelah itu, pengguna cukup duduk manis menugngu datangnya obat yang diantar oleh pengendara Go-Jek. Jonathan menargetkan maksimal 20 menit barang sampai ke tangan pengguna jika jarak dengna apotek sekitar 10 Km.

Bandingkan dengan pengalaman anda Selma ini untuk mendapatkan layanan kesehatan dan obat. Jonathan pernah menghitung, untuk layanan kesehatan, mulai dari perjalnan pergi-pulang, pendaftaran, konsultasi dokter, hingga pembeli obat, memakan waktu 4 jam 10 menit. Dari sluruh waktu itu, tidka jarang tatap muka dengan dokter hanya 10 menit.

Bukannya membaik, kondisi kesehatan boleh jadi memburuk akibat kelamaan di jalan. Apalagi, kondisi kesehatan tidak mendukung, sementar jebakan kemacetan mengintai di jalan raya. Castrol Magnatec Stop-Start Index 2014 bahkan mencatat Jakarta sebagai kota termacet di dunia.

Mitra apotek

Kondisi ini menginspirasi Jonathan untuk membuat Halodoc yang kali pertama diluncurkan pada April tahun lalu. Namun, ketika itu, aplikasi ini punya beberapa kelemahan. Untuk mengetahui ketersdiaan produk obat, misalnay, membutuhkan waktu 26 menit. Sebab, permintaan pengguna dilemparkan ke sejumlah apotek sebelum dibalas dengna pilihan penawaran harga. “Kalau begini, orang keburu beli obat sendiri,” ucapnya.

Kini dengna pembaruan aplikasi yang diklaim 250 persen dibandingkan Halodoc 1.0, sekitar 5 apotek terdekat dari pemesan dalam 30 detik mengirimkan ketersediaan obat dan harganya. Pengguna tidak lagi harus menunggu apotek mana yang bersedia menawarkan produknya.

Halodoc tengah bekerja sama dengna sekitar 1.000 apotek di Jaobdetabek yang tidak memasok obat-obatan terlarang. “Apotek tersebut tepercaya karena punya izin praktek dan terakreaditasi. Ke depan, kami akan menambah mitra apotek di kota lain,” ucapnya.

Dengna bantuan pengendara Go-Jek yang terbagi di beberapa zona, obat pun bisa segera diantarkan kepada pemesan. “Kami belajar  dari Go-Jek, kakak sekaligus investor kami,” ucap jonathan.

Monica Oudang, Chief of Human Resources Go-Jek mengatakan, pihaknya berkomitmen memberikan solusi terhadap masalah sehari-hari yang dihadapi pelanggan. Salah satunay melalui kolaborasi go-Med dan Halodoc. Pihaknya juga siap membantu Halodoc 2.0 berekspansi ke ktoa lain. Kini, go-Jek hadir di 25 kota di Tanah Air dengan mitra pengemudi Go-Jek sekitar 250.000.

Direktur Eksekutif Pengurus pusat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia berharap aplikasi Halodoc 2.0 yang juga terhubugn dengan dunia farmasi dapat menambah pasar apotek. Ini juga memicu apotek untuk meningkatkan kualitas layanannya.

“Apalagi saat ini dari 23.000 hingga 23.500 apotek di Indonesia, hanya sekitar 2.100 aptek yang terkareditasi,” ujar Darodjatun. Aplikasi digital dinilai menjadi penghubugn antara pasdar dan apotek.

Soal dokter, Halodoc 2.0 mengklaim telah bekerjasama dengna 1.900 dokter yang bersedia diajak berdiskusi dalam 24 jam. Untuk tergabugn dalam aplikasi ini, dokter harus memiliki surat izin praktik dan surat tanda registrasi (STR) yang tedaftar di Konsil Kedokteran Indonesia.

Sukarela

Dokter bisa memasang tariff ribuan rupiah hingga puluhan ribu rupiah per menit. Pembayaran dilakukan melalui salso akun Halodoc 2.0. Namun, tidak sedikit pula dokter yang tidak memungut biaya. Dunia digital juga mengundang volunterisme dari sang dokter.

Apakah konsultasi via dunia maya cukup untuk solusi problem kesehatan? Tentu saja tidak. “Kami tidak ingin menggantikan pertemuan langsung antara dokter dan pasien. Kami hanya penghubung. Jika diutuhkan, dokter akan merekomendasikan untuk periksa langsung,” ujar Jonathan yang merupakan lulusan Universitas Curtin, Australia, bidan E-Commerce.

Selain Halodoc dan Go-Med, aplikasi serupa juga tesedia di KlikDokter.com yang menawarkan konsultasi kesehatan secara daring dan Klik-Apotek.com untuk pesan antar obat. Laman tersebut juga menyuguhkan lebih dari 1.500 artikel kesehatan. Dalam satu bulan ,tercatat 18 juta pengunjung. Yang menarik lagi, layanan kesehatan ini tak hanya diakses oleh masyarakat urban di perkotaan, tetapi juga tenaga kerja Indonesia yang tersebar di beberapa negara, seperti Jepang, Hongkong, Australia, dan Belanda (Kompas, 12/3/2017).

Perkembangan aplikasi kesehatan dalam bentuk digital ini diharapkan mampu mengurangi masalah persebaran dokter yang belum merata. Dari sekitar 113.000 dokter yang punya STR, sekitar 49% di antaranya berada di Pulau Jawa dan Bali (Kompas, 9/2/16). Bisa jadi nanti lahir aplikasi layanan kesehatan secara digital yang dapat dijangkau warga Indonesia di pedalaman hutan dan pulau terpencil. Siapa sangka? [*/hilariusjourney.wordpress.com | Sumber : Kompas, Minggu, 28 Mei 2017 | Oleh : Abdullah Fikri Ashri]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s