EKOWISATA | Meniti Jembatan Cinta di Hutan Mangrove

HilariusJourney.wordpress.comADALAH Media sosial yang membuat lokasi yang sebelumnya tidak dikenal itu berubah menjadi salah satu destinasi wisata paling hit, terutama di kalangan remaja dan keluarga baru. Bahkan, kawasan yang menyatu dengan Pangkalan Pendaratan ikan (PPI) Paljaya Kabupaten Bekasi itu kini dikenal sebagai wisata mangrove Jembatan cinta.

“Pengunjung dan pemuda di sini yang memberi sebutan jembatan cinta karena sering dikujungi pasangan muda-mudi,” ujar M Guntur, Ketua Ikatan Putra Daerah (Ikapud) Paljaya REmpug Ikapud adalah pengelola parkir di kawasan wisata tersebut.

Berjarak sekitar 50 km dari pusat Pemkab Bekasi atau 38 km dari tenga hkota Jakarta, kawasan ekowista itu megnahdrikan kesegaran khas hutan mangrove dengan terpaan angin laut. Selain menapak jembatan sepanjagn 230 m untuk menikmati keasiranmangrove, pengujung juga bisa menyewa perahu nelayan menyusuri rimbunnya hutan mangrove menjork ke arah laut itu.

Minggu (7/5) siang, pengunjung berduyun-duyun menuju gapura bertuliskan “Selamat Datang Kawasan Pusat Restorasi dan Pembeljaran Mangrove (PRPM) Kabupaten Bekasi”. Dibalik gapura ada jembatan kayu yang rancangannya diawali tangga naik, jalan mendatar, tangga turun, lalu kembali ke jalan datar, tetapi lebih panjagn menjangkau tempat lebih jauh. Pada bagian lebih tinggi, pengunjung sesekali berhenti berswafoto.hutan-mangrove-laut

Swafoto

Jembata nwarna-warni itu rupanay memikat pengunjung untuk mengabadikan moemen. Wajah-wajah ceria berlatar belakang pemandangan jembatan berikut air laut pun segera tersebar di grup Whatsappp, akun Facebook, Twitter, dan Instagram, dan Jembatan cinta kian tersohor.

“Tidak ada yang memprmosikan (lokasi wisata ini) secara resmi,” kata Agus Arif Setiawan, ketua Kelompok Pengawas Masyarakat Sumber Daya Kelautan dan Perikanan  “Hiu”. Pokmaswas ini beraa di bawah Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi.

Namun, PPI Paljaya semakin ramai pengunjung setelah Jembatan Cinta viral di media sosial pada penghujung 2016. Itulah yang membuat Agus tak habis pikir karena hanya dalam hitungan bulan, lokasi yagn tadinya sepi itu dipadati  lebih dari 1.000 orang pada akhir pekan.

Agus yagn jgua salah satu pedagang makanan di PPI Paljaya mengatakan, tak ada niat menjadikan PPI Paljaya destiansi wisata. Kementerian Kelautan dan Perikanan pada akhir 2015 membangun Jembagtan PRPM murni untuk tujuan konservasi mangrove dan edukasi, termasuk guna memudahkan penanaman mangrove menuju lokasi penanaman.

Jembatan Cinta-yang sebenarnya Jembatan PRPM-persisnya berlokasi di dalam area PPI Paljaya RT 001 RW 001. Desa Segara jaya, Kecamatan Taruma jaya. Untuk mencapai temapt ini, dapat menggunakan sepeda motor atau mobil.

Dari Jakarta, PPI Palyjaya dapat dicapai melalui Jalan Akses Marunda yang penuh lubang dalam karena senantiasa dilewati truk-truk besar. Dari Bekasai, pengunjung bisa melewati komplkes Kota harapan Indah ke arah utara.

Salah satu pengunjung yang penasaran, Ahadil Jito (27), datang peratama kali ke tempat itu Minggu lalu bersama istri dan dua anaknya. “Tak menyangka di Bekasi utara yang gersang ini hutan mangrovenya,” ucap Jito.

Irfan (29), warga Cikarang kabupaten Bekasi, juga penasaran dengan wisata mangrove Jembatan Cinta. “Pengin lihat htuan mangrove sama foto di jembatan,” kata Irfan bersama kekasihnya, Nia (22).

Belum resmi

PPI Palyjaya seluas 7,4 ha di bawah naungan Dians Perikanan dan kelautan Kabupaten Bekasi. Namun, hutan magnorve dan jembagtan itu belum dikelola secara resmi sebagai kawasan ekowisata.

Alahasi, begitu lokasi ini ramai pengunjung, sejumlah nelayan mulai meyewakan jasa mengantarkan pengunung ke hutan mangrove, di tempa yagn lebih jauh dari daratan. Dengan tariff Rp 10.000-Rp15.000 per orang, pengunjung bakal dibawa ke barisan mangrove dengan suasana mirip hutan Kalimantan.

Pedagang dadakan yang rata-rata warga setempat pun bermunculan. Ada juga yagn menawarkan kapal angas untuk berkeliling di dekat hutan mangrove dengan biaya sewa Rp 20.000

Karena rata-rata pengunjung megnggunakan kendaraan pribadi, pemuda setempat dalam Ikapud berinisiatif mengolola tempat parkir. Setiap sepeda motor yang memasuki gerbagn PPI Palyjaay dipungut Rp 5.000.  “Murah meriah banget,” ucap Nani Nurani (29), salah satu wisatawan.

M Guntur, Ketua Ikapud Paljaya Rempug, mengungkapkan saat akhir pekan, jumlah sepeda motor pengunjung rata-rata 500 unit. “Hari Minggu biasanya lebih banyak,” katanya.

Bagi sebagian besar warga, ledakan wisatawan itu menumbuhkan perekomian Nelayan, yang selbumnya hanya mengandalkan tangkapan ikan, kini ada tambahan pemasukan.

“Kalau sehari-hari cari ikan palign dapatnya Rp 100.000. Kalau hari sabtu dan Minggu malah bisa dapat Rp 200.000 per hari hasil dari bawa pengunjung ke hutan mangrove,” katga kamal (250, nelayan Kampung Paljaya.

Namun, karena tidak dikelola resmi oleh pemkab ataupun swasta, kawasan ini tidak tertata dan tampak semerawut. Parkir sepeda motor kadang berjubel dnegna pedagang menutupi jalanan. Jalan pun dikotori sampah.

Belum terjaganya kebersihan dan kondisi yang semerawut itu dikeluhkan pengunjung. Toilet umum pun tiada.

Markodih, Ketua RT 004 RW 001 Desa Segara Jaya, mengatakan, pengelolaan wisata resmi belum dilakukan pemkab atau swasta. Ia berharap kawasan itu ditata sebagai destinasi wista resmi dengan melibatakan masyarakat lokal dalam mengelola.

Dengan begitu, Jembatan Cinta tak hanya menyuburkan cinta pengunjung, tetapi juga perekonomian warga.

[*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber dari : Kompas, Sabtu, 13 Mei 2017 | Oleh: HARRY SUSILO & J GALUH BIMANTARA]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s