LIFE STYLE

GAYA HIDUP | FIGUR – TEMBANG PUITIS MARISKA

Dia datang tergopoh-gopoh, membelah siang yang panas menantang. Sosoknya terlihat begitu belia. Mariska Setiawan, gadis milenial penyanyi sopran yang menggandrungi sastra. Aku arek Suroboyo, katanya bangga.

Mariska Setiawan – penyanyi sopran

HilariusJourney.wordpress.com“DUH, maaf ya… pesawatku delayed pagi tadi. Jadi telat janjinya. Aku buru-buru dempulan jadinya di taksi,” celotehnya kenes.

Mariska mengistilahkan berias dengan “dempulan”. Istilah yang mengundang tawa terkikik, apalagi ketika ia ucapkan dengna logat jawa-timurnya yang kental. Ia sendiri lalu ikut ngikik. Mariska memang sengaja merias wajahnya untuk keperluan pemotretan seiring wawancara.

Siang itu kami bertemu di Studio Ananda Sukarlan Centre di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Mariska yang memang tingga ldi Surabaya, Jatim, sore itu akan timapil bersama sang pianis kondang Ananda Sukarlan, di suatu hotel berbintang di Jakarta.

Ia lalu menyeret kopernya, membuka ransel dan merogoh mascara dari kantong make up. Sambil terus berceloteh, Mariska  mematut dirinya di depan cermin, merapikan bulu matanya dengan sikat mascara. “Tetapi, sempet mikir, mau naik ojek aja dari bandara. Tetapi baru inget ada koper gede ini,” ujarnya.

Waduh, ayu ayu kok naik ojek dari bandara, Mbak piye

Mariska mungkin bisa dibilang representasi “ganjil” dari generasi milenial masa kini; pandai berdandan, dinamis tetapi santai, fleksibel, kasual, dan ceplas-ceplos. Di sisi lain, ia menjalani dunia yang jauh dari cecapan orang awam; music klasik.

Bolak balik Jakarta-Surabay sepeti hari itu dijalani Mariska dengan gembira. Ia sedang dalam lakon yang dulu diimpikannya, menjadi penyanyi sopran, penyanyi dengan suara tertinggi dalam klasifikasi vocal music klasik Barat. Padahal, dunia seni vocal music klasik baru dimasukinya di usia remaja. Menurut dia, itu sebenarnya terlambat.

Bagaimana awalnya?

“Cuma gara-gara ikut ekstrakurikuler paduan suara waktu di SMA dulu,” ujarnya dengan mata berbinar. Mariska sebelumnya mengira, bernyanyi hanyalah sekadar bernyanyi. Ketika kemudian dia mengkhususkan diri untuk kursus vocal music klasik di Surabaya, ia menyadari bernyanyi menawarkan ruang eksplotasi yang bisa begitu luas dan  dalam.

Akses yang mahal

Mariska Setiawan – penyanyi sopran

Lulus SMA, Mariska berminat melanjutkan kuliah untuk mendalami seni vocal music kalsik. Sayangnya, karna biaya yang begitu tinggi, ia pun terpaksa menunda keinginan itu. Mariska lantas memilih mendalaminya melalui jalur non formal, lewat kursus privat intensif dan mengikuit master class, misalnya dengan penyanyi seriosa kenamaan Aning Katamsi.

“Sayangnya, di Indonesia belajar music kalsik formal itu aksesnya memang belum begitu terjangkau, mahal. Jadi, aku intensif jalur non-formal. Kalau di Surabaya, guru vokalku, Evelyn Merrelita, salah satusoprano terbaik Indonesia,” kata Mariska.

Mariska sendiri kini juga menjadi pengajar vocal selain menjalani profesi sebagai penyanyi sopran. Menurut dia, banyak penyanyi sserios merangkap sebagai pengajar vocal karena lahan pementasan masih sedikit.

Kiprahnya sebagai soprano cukup kerap berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan. Bersama Anandalah, Mariska menemui minat khususnya dalam bernyanyi: art song atau tembang puitis.

Tembang puitis diartikan sebagai karya lagu yang dicipta berdasarkan respons kreatif terhada psuatu karya sastra. Ananda sendiri memang dikenal piawai merespons karya-karya sastra menajdi komposisi music nan indah. Dalam hal sastra inilah, Mariska lantai menemukan kesesuaian minat dalam berkolaboroasi dengan Ananda.

Ia lalu menjelaskan soal dunia vocal dalam music klasik yang terbagi menjadi dua peminatan, yakni art song dan opera. Dalam opera, penyanyi juga berperan sebagai toko dalam cerita yang dipentaskan. Sementara dalam art song, tidak selalu penyanyi bermain peran. Menurut dia, penyanyi bisa dibilang sebagai pembawa pesan, bergantung apda teks yang diracik.

“Aku sendiri sebenarnya tumbuh dewasa leibh dulu dengna sastra daripada music. Papaku senang sekal ibaca buku-buku sastra, aku dikenalkan buku-buku sastra sama Papa sejak SD. Mulai dari yang tipis-tipis dulu, seperti Bukan Pasar Malam-nya Pram (Pramoedya Ananta Toer), Ronggeng Dukuh Paruk (karya Ahmad Tohari),” ujar Mariska.

Menelan Sastra

Mariska Setiawan – penyanyi sopran

Ayahnya, Moyong Setiawan, yang menggemari sastra Indonesia gemar menghujan isi putir bungsi ini dengan buku-buku. Meski kadang Mariska kecil tak paham 100% setiap isi buku. Ia menelannya saja. Pemahaman atas isi buku-buku itu akhirnya terbentuk seiring usianya bertambah dewasa.

“Keluargaku itu sederhana, jadi aku tergolong lambat kenal internet karena di rumah dulu enggak langganan internet. Punya gadget, hape, juga pas sudah besar. Jadi enggak lengket juga sama gadget, pelariannya jadinya ke buku-buku,” kata Mariska.

Dari buku-buku sastra indoensia karyas sastrawan-sastrawan lama, Mariska mengaku belajar menikmati dan menghargai hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan orang kebanyakan sehari-hari. Menurut dia, gaya sastar dahulu berbeda dengan kisah fiksi masa kini yang kadang gemar mengumbar mimpi. Misalnya, kencan yang romantic itu di Paris, Venesia, dan berbagai kolong langit lainnya.

“Buku-buku sasra dulu itu kan memotret yang serba sederhana aja ya. Ya kayak misalnya gambaran kalau orang Jawa itu seneng ngingu manuk, perkutut. Hal-hal kecil gitu aja. Itu jadinya yang aku hargai. Makanya, aku punya logat Surabaya gini, wis sebisa mungkin aku pertahankan aja,” celotehnya riang.

Nuansa dan Hati

Mariska Setiawan
Mariska Setiawan – penyanyi sopran Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 18-04-2017 untuk figur

Percakapan kami diselang-selingi dengan sesi pemotretan. Kami lalu menjajal latar pemotretan di lantai teratas tempat anak berlatih balet. Deretan poster pentas balet tempo doeloe yang tergantung  didinding lantas menarik perhatiannya. “Coba liaht poster yagn itu. Poster pentas zaman dulu lebih menghargai petikan-petikan kalimat berbahasa Indonesia. Kalau sekarang, poster balet pasti pakai kata-kata bahasa Inggris melulu,” ujarnya.

Mariska menunjuk poster pentas balet di Gedung Kesenian Jakarta tahun 1992 berjudul “Burung Gelatik”. Dalam poster itu ada kalimat “tak sangkar beremas tak umpan yagn lezat dapat menggantikan rasanya merdeka”. “Bagus ya kata-katanya…,” ujarnya.

Mariska memang peka dengan kata-kata. Pengagum penyair Hasan Aspahani ini punya pendekatan tersendiri setiap kali akan membawakan tembang puitis. Mariska mengatakan selalu membaca karya asli dari puisi atau lilteratur sastra yang akan diadaptasi ketimbang langsung mempelajari syair lagu hasil adaptasi saja. Dengan demikian, dirinya menjadi punya kesempatan memaknai dan menghayati sendiri karya asli sastra yang diadaptasi menjadi lagu.

Cara seperti itu membantunya mendekatkan hatinya dengan karya asli. “Musik itu dalam hal ini membantu memberi nuansa, atmosfer. Seperti misalnya kata-kata ‘aku mau hidup seribu tahun lagi’ jika dibawakan dalam iringan nada yang garang akan beda kalau pakai nada lembut…,” katanya sambil mencontohkan dengna menekan beberapa tuts piano.

Puisi “Aku” karya Chairil Anwar yang dikutipnya itu mungkin memang bisa menjadi garang sekaligus lembut. Jangan-jangan seperti dirimu juga ya, Mariska.

 [*/hilairusjourney.wordpress.com |sumber : Kompas |Minggu 7 Mei 2017 | Oleh : SARIE FEBRIANE]

Advertisements