AVONTUR | PERJALANAN – Rehat di Australia Barat

HilariusJourney.wordpress.comJEDA itu terasa saat kami memasuki Nambung National Park. Kami tiba di sini, Selasa (18/4) siang, setelah menempuh perjalanan darat selama sekita 2,5 jam dari Perth, ibu kota Western Australia, Negara Bagian Australia.

#Pemandangan The Pinnnacle Desert, pilar-pilar batu purba di Nambung National Park.

Taman itu menyuguhkan The Pinnacle Desert, hamparan gurun berpasir kuning yang dihiasi ribuan pilar atu kapur. Ukurannya bermacam-macam, mulai dari setinggi lehernya sentimeter hingga menjulan 3 m lebih. Berdiri di situ, kami serasa beada di planet antah-berantah bak di film-film fiksi.

“Bebatuan itu dibentuk oleh alam. Perubahan cuaca, terutama angin membuat permukaan batu menjadi berbeda-beda,” kata Suzanne Fisher, Merketing & PR Manager for Australia’s Coral Coast, yang menemani kami, rombongan beberapa wartawan dalam media trip undangan Tourism Western Australia.

Suzanne mengajak kami menengok baru mirip kepala anjing, jgua batu tertinggi di taman  itu. Perdu kadang tumbuh di antar bebatuan. Di atas semuanya, terbentang langit biru jernih dengan kilasan-kilasan awan putih. Ingatan tentang kehidupan kota yang bising dan sesak langsung sirna, digantikan rasa lengang. Tiba-tiba meruap perasaan: betapa kerdil manusia di tengah semesta.

Kami lantas bergesert ke Kalibari National Park, yang berajarak sktiar 590 km utara Perth. Rabu pagi, kami menjajal Kalabari Abeil, ataraksi menuruni tebing setinggi sekitar 25 m dengan tali dan dilengkapi beberapa alat pengaman. “Selamat pagi” sapa Colin Anderson, instruktur yang ramah dan lucu, begitu mengetahui saya berasal dari Indonesia.

Colin pintar mengambil hati pengunjung, termasuk mereka yang awalnya enggan turun. Saat bergelantungan di bebatuan, kami diminta melompat-lompat dengan dua kaki, “Jump like a kangaroo! Pintanya.

Kepincut sensasi ini, sejumlah pengunjung menjajal atraksi itu sampai dua kali. Asyik memang. Apalagi sejauh mata memandang, terpampang tebing bebatuan berlapis-lapis hasil proses alam.

#Pemandangan The Nature’s Window di Kalbarri National Park. Kawasan ini merupakan jalur Murchsion River yagn dipenuh tatanan bebatuan indah.

Pesona srupa jgua kami nikmati saat menyambangi Nature’s Window, masih di kawasan Kalihari, dengna puncak batu mirip jendela yang bertengger di atas Murchsion River. Tak hanya susunannya yang memikat, warna-warni bebatuan itu cerah: oranye, coklat, kuning, merah, atau putih gading. Para pengunjung tidak bosan berswafoto.

Batu purba dan sungai kuno itu meresapkan kesadaran bahwa dunia  ini sudah tua. Sepanjang-panjangnya usia manusia, masih tak seberapa dibandingkan umur semesta. “Masa lalu dan masa sekarang menyatu di sini,” kata Victoria McLoughin, perempuan lincah yang menjadi supir sekaligus pemandu wisata.

Pantai biru

# Skipjack Point , salah satu titik pandang yang memikat di Shark Bay, Australia Barat.

Australia Barat juga memikat dengan laut indahnya. Salah satunya, pantai dengan gugusan tebing batu yang unik. Red Bluff dan Pot Alley, di Kalharri. Wisatawan bis memelototi bebatuan tua yagn tersusun unik di pinggir laut seraya mendengarkan cerita petualang dari Eropa yang menjelajahi tempat itu beberapa abad lalu. Namun, angin bertiup kencang pengunjung mesti hati-hati.

Bergerak kea rah Hamelin Road, ada Shell Beach. Air lautnya biru jernih, dingin dan asin. Kami sempat nyebur sebentar, tetapi segera kedinginan. Pantai ini populer berkat miliaran cankgkang kerang kecil putih yang terhampar bagai pasir. “Pasir” itu demikian halus sehingga dari kejauhan, pengunjung tampak sebagai titik-titik mungil di tengah lapangan yang elok.

Di kawasan Shark Bay, ada beberapa pantai yang tak kalah indah, antara lain Cape Peron dan Skipjack Point. Pasirnya merah. Tentu saja lautnya juga biru-hijau jernih. Saat duduk di Skipjack Point, turis memperoleh sudut pandang luas untuk menelusuri lekuk-lekuk garis pantai dengan tebing merah berlekuk-lekuk.

“Dulu, saat pertama datang ke sini, orang-orang Eropa tak punya bahasa untuk berkomunikasi dengna kaum Aborigin. Mereka baru bisa berinteraksi setelah menari bersama. Jadi, bahasa awalnya adalah tarian,” kata Ralf Jaehrling, lelaki asal Jerman yagn sudah lama tinggal di Australia dan fasih menguraikan sejarah Shark Bay. Ngomong-ngomong dia pernah mengunjungi Bali dan mengaku kapan-kapan ingin kembli melancong ke “Pulau Dewata” itu lagi.

Tak jauh dari situ, di Shark Bay Road, ada pantai Monkey Mia yang dilengkapi resort dan restoran yang menghadap ke laut. Kami sempat menginap semalam di sini. Suasananya santai. Pagi hari, kami sarapan di restoran sambil menatap laut lepas, kapal bersauh ,burung pelican yang mondar-mandir di pasir, dan dolphin.

Memberi makan dolphin

#Beberapa relawan memberi makan dolphin di pantai Monkey Mia

Dolphin menjadi atraksi memikat di Monkey Mia. Tak hanya kemunculannya yang bersahabat, ikan-ikan liar itu jgua rutin diberi makan oleh sejumlah relawan. Pagi itu, sekitar pukul 08.00, ada delapan ekor yagn mapir, berberapa masih kecil. Itu hanay sebagai ndari belasan ekor pengunjung rutin pantai ini.

Setelah mengatur puluhan pengunjung agar berjajar rapi dan tidak terlalau dekat dengan dolphin, beberapa relawan turun ke air. Masing-masing membawa ember berisi ikan. Relawan menyodorkan ikan dengna tangan. Dolphin mendekat dan serta merta menyambar makanan itu. Semua berlansung cepat.

Atraksi seruap juga rutin digelar di Kalharri, tepatnya di tepi Murchison River di kota itu. Hanya saja, yang diberi makan  adalah burung pelican. Jumlah burung yang datang tidak menentu, kadang tujuh, lima, bahkan satu ekor. Seperti pagi itu ,saat kami hadir, hanya satu ekor yang muncul. “Tetapi, kalau nanti pulang ke negara Anda, boleh saja ditulis 10 pelikan yang datang,” canda Felicity, relawan, kedpa kami wartawan.

Perempuan paruh baya itu pintar menertibkan anak-anak yagn bergabung. Beberapa anak diberi ikan, diminta mengacungkannya kepada pelican. Kadang ikan dilempbar dan burung itu menangkapnya dengan cekatan.

Walhasil, mencicipi petualangan di tengah bebatuan purba, laut berwarwan tosca, dan ambil bagian dalma atraksi memberi makan hewan liar  di Australia Barat, sungguh menyegarkan mata, hari, dan pikiran. Beberapa hari menikmati semua itu, kami seerasa di dunia berbeda, dan waktu seakan melambat. Penat akibat rutinitas sehari-hari pun menguap begitu saja. [*/HilariusJourney.wordpress.com sumber : Kompas | Minggu, 7 Mei 2017 | Oleh : ILHAM KHOIRI photo diambil dari Paman Google]

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s