OLEH-OLEH |Tak Sekadar Lezat Disantap

HilariusJourney.wordpress.com KAMIS (27/4) sore, Jalan Lasinrang, yang berada di tengah Kota Makassar, Sulsel, amat ramai. Kendaraan roda empat dan dua terparkir padat di sisi kiri dan kanan jalan. Badan jalan yang semestinya berukuran dua kendaraan roda empat seolah tak lagi cukup. Jejeran kendaraan berbaris satu berjalan lambat di tengah.

Di sisi kiri dan kanan jalan adalah jejeran toko dan kios yang menjual jalangkote dan beragam penganan lainnya. Salah satunya kios Jalangkote Lasingrang milik Lily Montolalu yang nyaris tak pernah sepi pengunjung. Kios ini adalah kios jalangkote pertama di Jalan Lasinrang.

“Kebanyakan orang membeli jalangkote untuk oleh-oleh. Hanya sedikit yang datang dan makan di sini. Kadang jika ramai, tak semau pesanan bisa dipenuhi,” kata Lilly.

Jalangkote adalah penganan digoreng berbentuk seperti pastel, hanya saja kulitnya lebih tipis dan garing. Isinya berupa campuran wortel, kentang, taoge yang ditumis dengan beberapa bumbu dan telur ayam. Penganan ini biasa dimakan dnegna saus pedas, kombinasi rasa asam dan sedikit manis. Si renya ini dijual Rp 5.000-Rp 7000 per buah.

Sebagai oleh-oleh, jalangkote dikemas dalam kotak isi 10 dan 20 buah. Pembeli bisa membawa dalam kondisi sudh digoreng matang, setengah matang, atau dibekukan.

Konon, sejak 1980-an, jalangkote, mulai menjadi oleh-oleh. Awalnya hanya dibawa orang Makassar perantau yagningin kembali ke perantauan. Lambat laun berkembangmenjadi oleh-oleh.

Kebanyakan orang Makassar mengingat bahwa dulu jalangkoke dijajakan anak-anak dari kampung ke kampung, dari lorong ke lorong, pagi dan sore hari. Bentuknya pun tak berubah dari dulu sampai sekarang.

Yang berbeda saat ini adala hisinya. Jika dulu isinya campuran tumisan taoge, mi, dan soun, kini berisi sayuran dan daging atau telur. Mengikuti perkembangan, jalangkote akhirnya tak lagi banyak dijajakan keliling, tetapi dijual di toko kue dan warung kopi.

Yusnita Darayati, sore itu memesan 60 biji jalangkoke untuk di bawa pulang. Selama dua hari di Makassar, dia dan rekan-rekannya mengikuti rapat koordinasi yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan.

“Jalangkoke ini utnuk dibagi dengan tetangga, teman, dan keluarga. Saya tahu jalangkote karena memang ini salah satu oleh-oleh favorit dari Makassar. Lagi pula 33 tahun lalu saya sempat sekolah di Makassar.”Jadi kali ini saya bernostalgia dengan makanan sekaligus jadi oleh-oleh,” katanya.

Di tengah gempuran bisnis kue yang makin menjamur di Makassar, jalangkote tetap menajdi favorit utnuk oleh-oleh.di kios lily, saat msuim libur atau banyak acara besar di Makassar, pesanan bisa mencapai 1000 biji di setiap cabang. Begitu juga dengan kios-kios jalangkote lainnya.

“Kalau brownies atau kue lain, di mana-mana ada  Tetapi jalangkote hanya ada di Makassar. Ini khas daerah ini. Kalau saya bawa sebagai oleh-oleh, setidaknya ini jadi penanda bahawa saya baru saja ke Makasar. Istila hkekiniannya, saya bukan hoaks ke Makassar karean ada barang bukti,” kata Indah, pembeli yang membawa jalangkote ke Bandung.

Di Gunung Kidul, ada belalang goreng yang menjadi salah satu oleh-oleh yang diburu orang. Tak hanay pada hari raya seperti Idul Fitri dimana harga belalang goreng melonjak mengahalah harga daging sapi, tetapi juga pada hari-hari biasa.

Di toko oleh-oleh yagn ada di Gunung Kidul, belalang goreng mduah ditemukan. Biasanay dikemas dalam stoples plastic bening dijual Rp 25.000-Rp 35.000 kadang juga lebih mahal.

Malahan, belalang goreng kini jgua bisa dibeli secara daring sehingga penggemar belalang goreng yagn berada jauh dari Gunung Kidul tetap bias menikmati makanan kegemarannya itu dengna cara membeli daring.  Salah satunya belalanggoreng.com yang dikelola oleh Gandung.

Salah seorang penjual belalagn goreng yagn rerintis usahanya sejak 17 tahun lalu. Bu Gareng, menuturkan, belalang goreng awalnya dikonsumsi masyarakat Gunung Kidul dalam menu keseharian mereka.

“Orang Gunung Kidul memang sejak dulu megnonsumsi belalang. Masaknya ya sama, dari dulu digoreng biasa. Direndam dulu pakai garam dan bawang putih baru digoreng sampai kering. Jenisnay belalang padi dan belalang kayu,” tutur Bu GAreng. Rasanya yang gurih dan kaya protein memang menjadi daya tarik tersendiri.

Ketika belalang goreng belum naik duan daspeeti saat ini. Bu Gareng merintis usahanya menjual belalang goreng yang dia jajakan keliling. “Dulu masih murah, Rp 2.500 per kg. Sekarang bisa Rp 80.000 per kg. saya dulu jua dalam bungkus plastic, sebungkus Rp 400,” kata Bu Gareng.

Karena enak, belalang goreng buatan Bu Gareng pun laris manis. Keuletannya itu membuahkan dua toko oleh-oleh yagn dikelola anak-anaknya, dnegna sala hsatu andalannya berupa belalang goreng. Selai nrasa orisinal, Bu Gareng juga menciptakan belalang goreng rasa pedas dan bacem. Begitu jgua dengna jagnkrik goreng yang sama-sama diburu pelanggan. Dalam tiga hari, setidaknya Bu Gareng menggoreng belalang hingga 1 kuintal.

Jejaknya itu lantas juga diikuti pejual-penjual belalang goreng lainnya. Di sepanjang jalan dair Yogyakarta menuju gunung kidul, banyak penjual belalang goreng yang menjajakan dagangan mereka. Begitu tingginya permintaan pada belalang hingga selain dari Gunung Kidul, belalang juga ‘diimpor’ dari Purworejo dan Pacitan.

Diversifikasi

Di Lampung yang melimpah dengan hasil bumi berupa pisang, keripik pisang yang sejak lama dikenal sebagai oleh-oleh kahs Lampung dengan berbagai varia nrasa, belakangan dikembangkan menjadi pai pisang, adonan pastry dipadu dengan pisang dan aneka toping. Sejak dijual pertama kali tahun 2014, pai pisang segera menarik perhatian pelancong.

Toko kue yang turut mempopulerkan pagi pisang adalah “Yusy Akmal”. Toko itu menjual pai pisang dengan aneka toping di antaranya cokelat, keju, raisin almond, greentea, dan cappuccino.

Dewi Akmal (37), pengelola Toko Kue Yussy A Akmal, terinspirasi dari Tokyo Banana yang berasal dari Jepagn. Keluarga Dewi yang menjalani bisnis makanan pun mencoba membuat pai pisang dengan adonan pastry sehingga menghasilkan tekstur yang renyah saat digigit.

Untuk memperkuat aksen pisang, kulit pai dicetak menggunakan Loyang menyerupai bentuk pisang. Perpaduan kulit pai renyah, pisang,vla, dan toping menghasilkan pai yagn megngoyang lidah.

“Pai pisang disukai pembeli, baik anak-anak, remaja, dan orang tua. Perpaduan kulit pai yang renyah, pisang, dan toping yagn manis membuat makanan ini cocok di lidah semua orang,” ujar Dewi.

Dwi sempat kesulitan menjual pai pisang karena dianggap terlalu mahal. Saatu itu, satu kotak berisi enam pai psiang dijual Rp 50.000. Harga itu setara dengan 1 kg keripik pisang aneka rasa.

Namun sejak dipasarkan melalui instagram, pai pisang Yussy Akmal segera merebut hati banyak warganet. Mereka yang berkunjung ke Lampung pun memburu pai pisang sebagai oleh-oleh. Saat ini, Toko Kue Yussy Akmal memproduksi 5.000 pai pisang per hari untuk memenuhi tiga gerai kue yang tersebar di Kota Bandar Lampung.

pancake-main-1Di Medan, durian yang melimpah juga melahirkan pancake durian. Kue berbahan durian ini digemari juga oleh para pencinta durian.  Zainal Abidin Chaniago alias Ucok, pemilik Ucok Durian di jalan wahid hasyim, medan, mengatakan, pancake baru marak tiga tahun terakhir sebagai produk turunan durian. Ia sendiri baru mulai memajang pancake di warung duriannya dua tahun terakhir.

“Bahannya dari saya, tetapi bukan saya yang bikin,” kata Zainal.

Meski begitu, kehadiran pancake durian tak memengaruhi penjualan durina Ucok. Durian asli tetap palign favorit. Namun, bagi Sita, pancake durian tetap dibeli untuk kerabat yang tak suka durian asli. Ia, misalnya, membeli dua kotak pancake dan satu kotak durian asli untuk kerabatnya di Padang.

Tak sekadar lezat saat disantap, oleh-oleh pun punya nilai kelokalan yang tinggi. Meski zaman berubah, tak lantas membuat nilai kelokalannya harus tergusur. [*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber dari : Kompas, Minggu, 30 April 2017 | Oleh: Dwi As Setianingsih & Reny Sri Ayu]

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s