MAKAU, MENGEKALKAN MASA LALU

HilariusJourney.wordpress.com –   MAKAU memperoleh pengakuan sebagai salah satu situs pusaka peninggalan dunia sejak 2005. Ini terutama untuk bagian wilayah yang disebut sebagai pusat bersejrah Makau. Wilayah ini sebenarnya merupakan area urban di tengah kota tua yang terbentang di antara 8 lapangan dan 22 bangunan bersejrah. Bangunan-bangunan tua peninggalan Portugis  dan kuil dari abad silam tetap tegak kokoh berdiri menembus lorong waktu hingga ke abad modern ini. Salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan adalah Lapangan Senado yang dikelilingi bangunan-bangunan bergaya neoklasik berwarna pastel dari abad ke-19 dan ke-20 yang memberi nuansa mediterania. Lapangan ini sering dijadikan tempat penyelenggaraan festival dan sejak dulu menjadi pusat kota Makau. Pada 1993, bagian depan lapangan kemudian ditutup dengan batu-batu bulat berwarna putih dan hitam Portugis yang memperkuat kesan kuno.

#Bangunan seperti koloseum di kompleks Dermaga Nelayan Makau. Sebagian bangunan yang berada di sebaliknya telah hancur. Foto diambil dengan fitur panorama pada kamera.

Jika berkunjung ke Hongkong, jangan lupa menyempatkan diri untuk singgah di Makau. Hanya berjarak satu jam pelayaran dengan feri, Makau menawarkan peninggalan budaya hasil perkawinan budaya Timur dan Barat. Meski begitu, modernitas tetap kencang berdetak di tengah bangunan-bangunan kuno yang terpelihara.

Pada musim liburan, tempat ini padat oleh turis. Mereka duduk-duduk atau berjalan-jalan di seputar area itu menikmati gedung-gedung tua yang dipakai untuk bangunan publik atau komersial. Satu di antaranya adalah bangunan Kantor Pos Besar yang terletak di dekat Lapangan Senado. Gedung yang dibangun tahun 1929 ini diarsiteki oleh Jose Chan, orang Tiongkok pertama yang ditunjuk menjadi kepala arsitek oleh semacam Departemen Pekerjaan Umum Makau. Jangan lupa untuk mampir ke Kantor Pos yang buka hingga pukul 18.00 pada hari kerja jika ingin mengirim kartu pos kepada keluarga atau teman.

#Lorong di bangunan koloseum yang merupakan tiruan koloseum Roma. Kompleks ini merupakan pusat hiburan tematik yang mengintegrasikan pusat belanja, hotel, tempat pertemuan, dan kasino.

Tidak jauh dari Lapangan Senado adalah reruntuhan Gereja St Paul yang ikonik. Bangunan yang tinggal fasad atau bagian muka ini sangat ramai dikunjungi. Posisinya lebih tinggi daripada bangunan-bangunan di sekitarnya yang membuatnya tampak semakin menonjol dibandingkan dengan bangunan lainnya. Dari atas sini, kita bisa melihat hotel-hotel dan kasino supermegah di kejauhan, wajah lain Makau.

Turis-turis asal Indonesia cukup banyak yang berkunjung ke Reruntuhan St Paul. Beberapa juga terselip para tenaga kerja Indonesia, baik yang tengah liburan maupun mendampingi majikan mereka. Jika bertemu dengan sesama orang Indonesia yang dirasa familier, mereka kerap bertanya, ”Lagi libur?” Para TKI hanya bisa keluar pada hari libur mereka yang sekali seminggu atau jika diminta pergi ke suatu tempat.

#Taman yang bersih dan sejuk di kompleks Dermaga Nelayan Makau.

Gereja St Paul terbakar pada 1595 dan 1601. Gereja ini mulai dibangun kembali tahun 1602 dan selesai tahun 1644 dengan bangunan yang jauh lebih besar. Bagian fasadnya dipenuhi dengan detail. Terdapat relief berbagai motif, seperti bunga krisan, peoni, bulan, matahari, dan inskripsi China. Keseluruhan fasad merupakan perpaduan sempurna antara budaya Barat dan Timur. Pada 1835 gereja kembali terbakar dan hanya menyisakan bagian fasad. Di bagian belakang fasad kemudian didirikan Museum Sacred Art and Crypt yang buka hingga pukul 18.00 dan gratis masuk.

Koleksi museum terletak di ruang bawah tanah dan merupakan barang-barang peninggalan gereja yang tersisa, seperti patung, lukisan, simbol-simbol kebesaran, hingga tulang-belulang para martir. Pengunjung akan disambut oleh tumpukan batu-batu besar penyusun bangunan yang berasal dari tahun 1602.

”Egg tart”

Untuk menuju Reruntuhan St Paul dari Lapangan Senado, kita melewati jalanan sempit yang menurun kemudian menanjak, diapit oleh toko-toko yang kebanyakan menjual oleh-oleh. Jangan lupa mencicipi egg tart atau egg roll, penganan khas setempat hasil pengaruh Portugis. Kue ini semacam pia susu di Bali. ”Rasa egg tart di sini beda, lebih enak daripada yang dijual di Hongkong,” kata Desi, seorang pengunjung.

Kulit pastry egg tart yang berlapis-lapis terasa renyah dengan bagian tengah yang lunak, hangat, dan manis karena terbuat dari susu, kuning telur, dan gula. Kadang-kadang kita harus antre untuk mendapatkan kue yang banyak dijual di toko oleh-oleh atau kedai khusus egg tart ini.

Ruas jalan menuju Reruntuhan St Paul ini semacam pusat kuliner, setelah di sekitar area Lapangan Senado bangunannya banyak dimanfaatkan sebagai pusat pertokoan yang menawarkan berbagai produk mode merek lokal hingga merek dunia kenamaan.

Makau merupakan koloni Portugis yang kemudian dikembalikan kepada Tiongkok tahun 1999. Sama seperti Hongkong, Makau merupakan daerah administrasi khusus dari RRT atau special administrative region (SAR) yang menganut sistem ”satu negara dua sistem”. Mereka memakai sistem perdagangan, imigrasi, dan mata uang sendiri, tetapi mengikuti sistem militer dan kebijakan yang diterapkan Tiongkok. Makau dulunya kota pelabuhan yang menjadi gerbang perdagangan jalur sutra yang menuju Roma.

Selain bangunan-bangunan bergaya Eropa, terdapat pula kuil-kuil yang juga terpelihara dengan baik. Begitu identiknya dengan wajah Eropa, Makau kemudian membuat pusat hiburan baru dengan gaya taman tematik di Dermaga Nelayan Makau atau Macau Fisherman’s Wharf. Jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari terminal Hongkong-Macau Ferry Pier atau beberapa menit saja dengan menumpang bus.

Memudahkan pengunjung

Taman hiburan ini yang pertama dan terbesar dibangun di Makau dan mengintegrasikan hotel, tempat belanja, restoran, tempat pertemuan, hingga kasino. Tema-tema yang dibangun antara lain Amsterdam, Roma, Lisabon, Inggris, Miami, Cape Town, dan New Orleans. Pembangunan memakan waktu lima tahun sebelum akhirnya beroperasi penuh tahun 2006. Hasilnya cukup memberi kesan kuno. Salah satu bagian yang paling menarik adalah bangunan koloseum atau amfiteater yang dibuat tidak utuh seperti koloseum di Roma.

Jika hanya memiliki waktu sehari, ada baiknya berangkat pagi hari untuk menghindari antrean naik feri. Dari Hongkong, kita cukup naik Mass Transit Railway (MTR) menuju Stasiun Sheung Wan. Lokasi stasiun berada dalam satu gedung dengan loket dan terminal feri, tetapi berbeda lantai. Ke Makau juga bisa dilakukan dengan menumpang helikopter atau pesawat.

#Becak menjadi salah satu moda transportasi di Makau.

Berbagai informasi tentang situs-situs menarik di Makau tersedia dalam berbagai buklet di pusat informasi turis yang berada tidak jauh dari loket feri atau hotel-hotel di Hongkong. Mulai dari panduan kuliner, museum, gereja, kuil, sirkuit balapan, berbagai atraksi wisata, hingga cara berwisata yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki di Makau SAR yang hanya seluas 30,3 kilometer persegi. Dalam buklet dibuatkan kluster-kluster obyek wisata menarik yang berdekatan dan kemudian dibagi dalam kelompok minat.

#Dermaga Nelayan Makau yang dihiasi bangunan-bangunan bergaya ERopa klasik dan elegan.

Makau memperoleh pengakuan sebagai salah satu situs pusaka peninggalan dunia sejak 2005. Ini terutama untuk bagian wilayah yang disebut sebagai pusat bersejarah Makau. Wilayah ini sebenarnya merupa- kan area urban di tengah kota tua yang terbentang di antara 8 lapangan dan 22 bangunan bersejarah. Bangunan-bangunan tua peninggalan Portugis dan kuil dari abad silam tetap tegak kokoh berdiri menembus lorong waktu hingga ke abad modern ini.

Makau tahu betul cara menarik pengunjung, mempermudah kedatangan mereka, dan memberi petunjuk jelas dan lengkap untuk menikmati waktu mereka di daerah yang cantik ini.[Sumber : Kompas, Minggu, 28 Februari 2016 | Oleh : SRI REJEKI]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s