PUYUH BERANI TAMPIL BEDA

HilariusJourney.wordpress.comBUNYI gamelan khas sunda seperti meruang ketika kaki melangkah masuk ke salah satu cabang Warung Sangrai di Jalan RE Martadinata, Bandung, Jabar. Memproklamirkan diri sebagai pelopor hidangan puyuh, mayorits menu yang disuguhkan memang didominasi olahan puyuh. Beragam menu tersebut pada dasrnya diolah dari dua jenis burung puyuh, yaitu puyuh lokal dan puyuh perancis.

Puyuh lokal dipasok dari unggas puyuh yang memang asli Indonesia, sedangkan puyuh perancis konon merupakan persilangan antara puyuh lokal dan puyuh asing Dari segi penampakan, puyuh perancis memiliki ukuran lebih besar dibandingkan puyuh lokal. Soal rasa, puyuh lokal terasa lebih gurih bagi sebagian penggemar. Namun, penyuka puyuh lainnya ada pula yang lebih menggemari  puyuh perancis dengan daging yang lebih renyah dan tebal.

Baik puyuh lokal maupun puyuh perancis disajikan dalam beragam jenis olahan tradisional. Menu favorit di Wrung Sangrai yang berdiri sejak tahun 2011 ini antara lain puyuh  rawit, nasi tutug oncom puyuh, dan nasi timbel wangi puyuh. Sesua idengna namanya, puyuh rawit diolah dari daging puyuh goreng dengan topping sambal rawit  tradisional

Menu andalan lainnya adalah nasi tutug oncom puyuh, memadukan antara puyuh goreng dan nasi tutug oncom khas Sunda serta lauk tahu, tempe, ikan bilis, sayur asam, serta sambal. Tak melulu hanya menyajikan olahan khas Sunda, ada pula menu Nusantara dari Bali, seperti nasi geprek sambal matah. Selain digoreng, puyuh juga dihidangkan dalam olahan puyuh bakar dan sup puyuh.

Dari segi rasa, olahan daging puyuh ini layak menjadi pilihan bagi konsumen yang bosan hanya dengan olahan daging ayam atau bebek. Bersantap burung puyuh bagi sebagian orang juga menjadi pengalaman pertama karena daging puyuh di pasaran memang tergolong sulit didapat. Bahkan, di pasar-pasar tradisional hingga supermarket pun cukup sulit untuk membeli bahan baku burung puyuh.

Rendah kolesterol

Dibandingkan dengan ayam atau bebek, daging puyuh memang cenderung lebih tipis. Namun, justru sensasi bersantap puyuh menjadi terasa mengasyikkan ketika gigitan daging bertemu dengan gurih tulang muda. Hebatnya lagi, daging puyuh juga sudah terbukti lebih sehat karena rendah kolesterol.

Di setiap meja di Warung Sangarai, tak hanya tersedia menu aneka olahan puyuh, tetapi juga pamphlet berisi informsi tentang kandungan gizi puyuh. Data laporan hasil uji daging puyuh dair Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM dipajang dengna label tulisan “Terbukti Rendah Kolesterol”.

Dari hasil pengujian tertanggal Januari 2016 tersebut, tampak diagaram yang membandingkan sampel ayam, bebek,dan puyuh. Hasil analisis kandungan protein pada puyuh terbukti leibh tinggi dibandingkan ayam dan bebek dengan presentase kolesterol pada puyuh yang lebih rendah dibandingkan ayam ataupun bebek.

“Dengar puyuh, konsumen asumsinya masih telur puyuh, bukan daging. Kami sengaja tidak jual telur puyuh karena kolesterolnya tinggi. Lebih mengedepankan masakan daging dengan aneka kreasi tradisional. PR kita yang cukup berat adalah bagaimana mengedukasi masyarakat gemar makan puyuh. Kandugnan gizinya bagus,” kata Asep Ishak Wiranta, GM Warung Sangrai.

Untuk menjaga kualitas puyuh, Warung Sangrai sudah memiliki pemasok puyuh tetap dari Jateng. Puyuh yang diolah hanyalah puyuh muda supaya dagingnya tak terlalu a lot. Setelah diterima dari pemasok, puyuh kemduian dibumbui dengn resep rahasia di dapur pusta pengolahan sebelu mkemudian didistribusikan ke sejumlah gerai di Bandung, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Surabaya.

Dikirim dalam wujud daging beku yang sudah dibumbui, setiap cabang hanya tinggal menggoreng atau membakar  daging puyuh sebelum kemudian disajikan. Mereka meracik bumbu-bumbu tambahan dengan prosedur cara pengolahan yang sudah ditetapkan Warung Sangrai yang berkantor pusat di Bandung.

Mulai diterima

Meskipun sudah enam tahun berdiri, Warung Sangrai masih mengalami kendala dalam mengenalkan daging puyuh kepada khalayak yang lebih luas. Masyarakat lebih cenderung tertarik mengonsumsi daging unggas yang lebih dulu populer, seperti ayam dan bebek. Karena itu, Warung Sangari pun tetap menghadirkan alternative menu yang sudah biasa dikenal oleh masyarkat dari olahan ayam pejantan.

“Mulai bisa diterima. Di banyak tempat, banyak yang ingin bermitra dengan kita. Dianggap bisnis yagn unik, anti-mainstream. Enggak umum. Orang yang belum pernah makan awalnya mungkin memang merasa aneh karena karakter. Enggak umum. Orang yang belum pernah makan awalnya mungkin memang merasa aneh karena karakter dagingnya beda,” ujar Ishak.

Menyasar konsumen menengah ke atas, harga per porsi daging puyuh di Warung Sangrai dimulai dari yagn paling murah Rp 25.000 per porsi puyuh lokal. Biasanya, konsumen di kawasan wisata, seperti Bandung, akan membeludak pada akhir pekan atau musim libur panjang. Seperti pada libur panjang akhri pekan lalu, omzet warung yang biasanya hanya Rp 10 juta per hari bisa melonjak hingga lebih dari Rp 20 juta.

Mempekerjakan total lebih dari 100 karyawan, pendiri Warugn Sangaria Johann Kevin Tirtha awalnya tertarik menggarap hidangan berbahan bakupuyuh karena melihat peluang bisnsi yang masih terbuka lebar. Kala itu, Johann sekolah di Australia dan melihat konsumsi puyuh yang cukup bagus di “Negeri Kangguru”. Di beberapa negara lain, puyuh juga menjadi primadona karena kadnungan nutrisinya yang bagus. Tak sekedar enak dan lezat, sehat ala puyuh pun perlu…

[*/hilairusjourney.wordpress.com |sumber : Kompas |Minggu 7 Mei 2017 | Oleh : Mawar Kusuma]

Karena daging ayam atau bebek sudah menjadi terlalu biasa, Warung Sangrai berani tampil beda dengan menyuguhkan menu utama burung puyuh. Menggusung cita rasa lokal Indonesia, puyuh muda disajikan dengan beragam olahan yang dijamin bakal bikin ketagihan. Bahkan, sajian puyuh dari warung ini sudah menyebar ke-17 gerai di enam kota. Bunyi gamelan khas Sunda seperti meruang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s