MI ONGKLOK MENEMBUS BATAS NEGARA

TIDAK perlu memakai ungkapan luar biasa untuk menggambarkan cita rasa mi ongklok Longkrang di jalan Pasukan Ronggolawe, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Diracik dengan tidak terlalu banyak bumbu dan tanpa ”embel-embel” penyedap apa pun, hidangan khas Wonosobo dari warung ini menawarkan kesederhanaan rasa yang otentik, ringan, dan tidak terlalu ”njelimet” di lidah. Rasa sederhana yang orisinal bertahan sejak warung berdiri pada 1975

HilariusJourney.WordPress.com – Mi ongklok merupakan hidangan mi bercampur kol dan daun kucai, dengan kuah kental terbuat dari sari pati nabati, dan bagian atas disiram dengan bumbu kacang.

”Penampilan” mi berikut kuah kentalnya yang memenuhi piring membuat hidangan ini terkesan bercita rasa ”berat”, atau membuat cepat kenyang. Tapi semua itu lenyap begitu mencicipinya.

Di warung ini, setiap suapan mi bersama kuahnya tidak terasa enek, justru terasa begitu lembut, ringan, dan memancing si penyantap untuk menuntaskan hidangan hingga tandas.

Bahkan juga menantang untuk menghabiskan setiap jejak kuah di piring, dan sluurrrppp… terasa begitu segar di mulut!

Warung mi ongklok Longkrang hanyalah salah satu dari puluhan warung kedai mi ongklok di Kabupaten Wonosobo yang menawarkan sensasi rasa itu.

Namun, dengan melihat usia berdirinya, warung ini termasuk kategori ”legendaris”, dan disarankan banyak orang untuk dikunjungi.

Waluyo (48) adalah generasi kedua yang menjalankan warung mi ongklok Longkrang. Dia sendirilah yang terjun menyiapkan hidangan untuk para pelanggan, menggantikan ayahnya, Samsudin, di warung yang tidak pernah bergeser dari lokasi semula sejak 42 tahun silam.

Di tahap awal proses memasak, ada tahapan unik yang harus dilalui agar mi yang dipakai ”sah” menjadi mi ongklok. Proses ini terjadi saat mi bersama kol dan kucai untuk satu porsi diletakkan dalam semacam saringan bambu, dicelupkan ke dalam air panas berkali-kali.

”Dalam proses pencelupan ini, campuran mi bersama kol dan daun kucai dalam saringan bambu, harus rajin di-ongklok-ongklok (digoyang-goyang) agar matang merata di semua bagian,” ujar Waluyo (48), pemilik warung mi ongklok Longkrang.

Dari proses inilah, sebutan ”ongklok” akhirnya ”resmi” melekat. Tidak pernah ada yang berubah dalam proses ini, termasuk saringan berbahan bambu yang menjadi peranti ”wajib” yang urung tergantikan.

”Saringan bambu adalah bagian dari menjaga orisinalitas rasa karena tidak menambah aroma atau merusak rasa dari bahan-bahan yang dicelup,” ujarnya.

Berikutnya, yang perlu diperhatikan adalah kuah kental dari mi. Di warung, kuah kental tersebut telah terlebih dahulu dimasak dan disiapkan dalam panci, yang selalu mengepul panas di atas kompor yang selalu menyala dengan api kecil.

Kuah ini dibuat dari racikan bawang merah, bawang putih, sari pati nabati, ebi (udang kecil), kecap, dan gula merah.

Sebagai sentuhan terakhir, mi yang sudah berkuah kental disiram dengan bumbu kacang, yang terbuat dari paduan kacang dan gula merah yang ditumbuk kasar. Sedikit bawang merah goreng sebagai penyedap, hidangan ini pun siap disantap.

Untuk tambahan lauk, pengunjung dapat memesan sate sapi, tempe kemul, dan geblek. Semua hidangan ini baru akan disiapkan ketika dipesan sehingga semuanya dijamin terhidang panas, langsung dari penggorengan dan tungku arang.

Tempe kemul adalah semacam tempe goreng berbalut tepung, namun cenderung lebih kering dari mendoan, sedangkan geblek adalah makanan yang terbuat dari paduan bawang putih, kelapa, dan adonan tepung kanji, kemudian digoreng.

Waluyo mengatakan, secara umum, tidak ada yang berbeda dari yang ditawarkan oleh warung-warung lain.

Dia hanya berusaha menjaga agar cita rasa tetap bertahan sama dengan memakai peralatan, teknik memasak, bumbu, bahan—termasuk bahan pelengkap—yang sama dengan yang dipakai oleh mendiang ayahnya.

Selain memakai saringan bambu, dia pun hingga kini tetap memakai kecap produksi industri rumah tangga, yang diproduksi oleh kerabatnya sendiri. Selain itu, dia pun juga konsisten memakai mi produksi rumah tangga merek tertentu dari Purwokerto.

”Kalau memakai produk-produk merek lain, saya khawatir rasanya akan berubah,” ujarnya.

Diserbu pembeli

#Mi Ongklok Longkrang Wonosobo

Waluyo mengatakan, kemahiran ayahnya, Samsudin, meracik mi ongklok didapatkan dengan belajar secara khusus pada seorang pedagang mi ongklok keliling.

”Ilmu” dan ”pembelajaran khusus” yang dilakukan mulai tahun 1960-an inilah, yang kemudian diteruskan Waluyo dan melekat menjadi cita rasa unik mi ongklok Longkrang hingga kini.

Keunikan rasa inilah yang menggiring banyak orang datang dan menghabiskan sekitar 1.000 porsi mi ongklok per hari dan bahkan pada akhir pekan, bahkan mencapai 5.000 porsi per hari!

Waluyo mengatakan, keriuhan pengunjung yang datang tersebut, sering kali menimbulkan ”persoalan” tersendiri. Selain karena keterbatasan tempat bagi pengunjung yang makan di tempat, dia pun harus bijak meminta agar konsumen yang ingin membawa pulang mi ongklok, untuk bersabar.

”Karena begitu banyaknya pengunjung yang datang, maka pada akhir pekan, biasanya kami membagikan nomor antrean,” ujarnya.

Pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu tersebut, nomor antrean yang dibagikan bisa mencapai hingga nomor urut 200. Hal ini membuat antrean panjang pembeli hingga di tepi jalan di luar warung.

Rasa orisinal yang sangat lokal ini terekam erat dalam ”memori” indra pengecap dan pikiran sehingga kemudian membuat sebagian orang kangen untuk mencicipinya kembali.

Hal inilah yang kemudian membuat salah seorang pelanggan, warga Wonosobo, yang saat ini sudah tinggal di Belanda, bersikeras meminta agar mi ongklok buatan Waluyo dikirim ke tempat domisilinya saat ini.

Waluyo pun memenuhi keinginan ”nekat” tersebut. Biasanya, mi bersama sayuran langsung dikirim dalam kondisi mentah, untuk selanjutnya dimasak sendiri di di Belanda. Namun, untuk kuah, dia harus memberikan perlakuan khusus.

”Kuah kental yang sudah masak biasanya harus terlebih dahulu dimasukkan dalam freezer, kemudian saya kirim dalam kondisi beku ke Belanda,” ujarnya.

Kerinduan akan kesederhanaan rasa ini jugalah yang menarik Iman (43), warga Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, untuk datang dan singgah ke warung mi ongklok Longkrang. Sekalipun ada banyak pilihan warung, pilihan untuk menikmati mi ongklok selalu jatuh di warung ini.

” Mi ongklok Longkrang langganan saya sejak kecil. Menurut saya, racikan bumbu-bumbunya paling pas di lidah,” ujarnya.

Dalam perjalanannya membuka usaha, Waluyo mengatakan, mi ongklok Longkrang telah mampir, di lidah dari jutaan pelanggan, dari beragam kalangan, berbagai profesi, suku, etnis, dan lintas kewarganegaraan.

Berderet sejumlah nama dari tokoh, pesohor, dan pejabat telah singgah di warung ini, mulai dari para pelawak di masa lampau yang kini semuanya telah almarhum yaitu Ateng, Iskak, dan Bagyo, almarhum, Menteri Sekretaris Negara pada era Soeharto, Moerdiono, hingga mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mi ongklok Longkrang juga pernah dicicipi oleh tamu-tamu asing Pemerintah Kabupaten Wonosobo, yang berasal dari 25 negara. Mereka menghabiskan setiap porsi yang terhidang, tandas tak bersisa.

Waluyo mengatakan, pernah pula seorang warga Inggris intens mengunjungi warung mi ongklok Longkrang. Belakangan, dia pun baru tahu, hal ini dilakukan sebagai bagian dari survei untuk sebuah website internasional yang memuat ulasan, informasi tentang hotel, kuliner di tempat-tempat tujuan wisata.

Mi ongklok Longkrang membuktikan bahwa cita rasa sedap masakan bisa diterjemahkan dalam banyak bahasa, menembus batas negara….[*/hilariusjourney.wordpress.com|Sumber:KOMPAS,Minggu,23April2017,halaman31|Oleh:ReginaRukmorini]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s