MANTAR, Eksotisme “Negeri di Atas Awan”

SETELAH menaklukkan jalur perbukitan yang terjal dan berkelok selama 40 menit dari Tapir, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, tersaji pemandangan menawan saat tiba di Desa Mantar.

Dari desa yang terletak sekitar 630 meter di atas permukaan laut itu, terpampang pesona menawan sejauh mata memandang.

HilariusJourney.WordPress.comDI sebelah barat, terlihat awan putih berarak pelan menyelimuti Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Tepat di sisi timur gunung berapi setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut itu membentang Selat Alas dengan kemilau air laut yang tenang memantulkan cahaya matahari.

Kapal-kapal penyeberangan terlihat bergantian datang dan meninggalkan Pelabuhan Pototano.

Tampak jelas dari Mantar, tak jauh dari pelabuhan, tersebar delapan pulau kecil (gili) yang disebut Gili Balu. Dari kejauhan, pulau-pulau yang sebagian besar tak berpenghuni itu terlihat cantik dengan pasir putih, laguna, dan hutan bakau lebat.

Sekitar 2 kilometer arah selatan Pelabuhan Pototano, di sebagian kawasan pesisir, berjejer tambak udang. Petak-petak sawah tadah hujan berbentuk persegi yang ditanami jagung dan palawija, pun menorehkan perpaduan warna kuning keemasan dan hijau muda.

Petak-petak sawah itu saling berangkai hingga ke kaki-kaki bukit di sisi utara dan timur.

Menyaksikan langsung keindahan itu tidak hanya mengundang decak kagum, tetapi juga suasana menenangkan. Apalagi, saat angin pegunungan berembus pelan.

”Keren sekali!” teriak Jaelani (41), yang pada Minggu (26/3/2017) sore itu datang ke Mantar bersama anggota klub motornya dari Mataram, Lombok.

”Tak sia-sia kami menempuh perjalanan berjam-jam dengan sepeda motor demi sampai kesini,” kata Jaelani.

Tak menunggu lama, Jaelani langsung mengambil telepon pintarnya. Dia lalu mengabadikan momen itu. Setelah puas berswafoto beberapa jepretan, dia mengajak rekan-rekannya berfoto bersama.

Demi mendapat foto terbaik, mereka berpose dengan berbagai gaya. Ada yang berdiri menghadap atau membelakangi pemandangan indah di kejauhan, menghadap ke samping, dan merentangkan kedua tangan ke atas.

”Apa yang saya lihat di media sosial dan membuat saya tertarik ke sini memang benar adanya. Ini luar biasa. Saya akan ke sini lagi dan mengajak anggota klub yang lain,” kata Jaelani.

#Joki memacu sepasang kerbau saat mengikuti balapan kerbau dalam rangka Festival Mantar 2017 di Mantar, Minggu (2/4/2017). Balapan kerbau ini diikuti ratusan peserta dari sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat.

Terbayar

Kekaguman tak hanya disampaikan Jaelani yang datang jauh-jauh dari Mataram. Warga Sumbawa Barat, seperti Awaludin Ismail (47), juga tidak pernah melewatkan setiap kali ada kesempatan mengunjungi Mantar pada akhir pekan.

”Mencapai Mantar memang tidak mudah karena jalurnya menantang. Perjalanan itu akan terbayar ketika kita sudah ada di sini,” kata Awaludin, warga Seteluk yang datang bersama keluarga.

Tak mengherankan jika rombongan keluarga Awaludin begitu menikmati suguhan pemandangan sore itu. Seperti pengunjung lain, selain berswafoto, mereka juga membuat foto dan video keluarga. Rombongan itu baru pulang setelah lebih dari 1 jam berada di Mantar.

Menurut Awaludin, suguhan pemandangan sore itu sebenarnya belum lengkap. Ada satu pemandangan lain yang terlewatkan, yakni awan.

Mantar memang dijuluki sebagai ”Negeri di Atas Awan”. Pada pagi hari atau setelah hujan, pemandangan berupa laut dan daratan akan lenyap, berganti awan putih.

”Saat momen itu berlangsung, di depan mata kita hanya awan. Jika ke sini pagi hari, awan itu akan terlihat dahsyat, saat berpadu semburat sinar matahari terbit,” kata Awaludin.

Sebutan Negeri di Atas Awan untuk Mantar muncul setelah dirilis film berjudul Serdadu Kumbang pada Juni 2011 silam.

Film garapan sutradara Ari Sihasale yang juga ia produseri bersama sang istri, Nia Zulkarnaen, itu mengambil lokasi shooting utama dan bercerita tentang anak-anak Mantar.

Sejak saat itu, Mantar mulai populer dan cerita tentang keindahannya menjadi viral di media sosial. Wisatawan yang datang ke Mantar tidak hanya dari Nusa Tenggara Barat, tetapi juga luar, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, dan Sulawesi.

Belakangan, Mantar juga menjadi tempat penyelenggaraan festival paralayang internasional, yang diikuti peserta dari China, Australia, Jerman, Finlandia, dan Malaysia.

”Saat ini, setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, wisatawan yang datang 100 orang lebih. Mereka naik kendaraan sendiri seperti sepeda motor, atau menyewa mobil bergardan ganda yang kami sediakan,” kata Samsul Hidayat, pengemudi mobil sewa ke Mantar.

Mantar yang merupakan bagian Kecamatan Potatano terletak sekitar 18,5 kilometer dari Pelabuhan Potatano. Sebelum mencapai Mantar, pengunjung terlebih dahulu harus menuju Tapir di Kecamatan Seteluk.

Di Tapir, wisatawan bisa menyewa mobil bergardan ganda dengan ongkos Rp 40.000 per orang bolak-balik untuk mencapai Mantar dengan waktu tempuh sekitar 30-40 menit.

Desa budaya

#Panorama pegunungan di Sumbawa yang terselimuti awan terlihat di Mantar, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/4/2017). Desa Mantar yang dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan ini memiliki potensi wisata alam serta wisata budaya.

Eksotisme Mantar tidak hanya terletak pada suguhan lanskap alam yang bisa dinikmati dari atas ketinggian. Kekayaan adat dan budaya yang bisa ditemukan di desa seluas 430 hektar itu adalah hal lain yang tak boleh dilewatkan.

Menyusuri permukiman warga, pengunjung akan disuguhi rumah-rumah panggung dari kayu.

Menurut Kepala Desa Mantar Abdul Salam, dari 1.344 warga yang tersebar di tiga dusun, yakni Mantar, Ai Taruma, dan Omal Sapa, mayoritas dari mereka adalah petani dan peternak. Lahan pertanian di Mantar amat subur.

Abdul Salam menambahkan, aktivitas masyarakat itu membuat Mantar kaya dengan adat dan budaya yang diwariskan dan dipertahankan turun-temurun.

Sebut saja budaya gotong royong yang dalam bahasa Sumbawa disebut basiru, mulai dari bercocok tanam hingga panen.

Selain itu, ada juga sedekah orong atau syukuran setelah tanam padi. Ada pula permainan tradisional seperti badempak atau sepak kaki dan baguntung atau bermain musik menggunakan lesung yang biasa digunakan untuk menumbuk padi.

Masih terjaganya adat dan budaya di desa itu membuat Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menetapkan Mantar sebagai Desa Wisata Budaya.

Agar semakin kuat, menurut Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Sumbawa Barat Abdurrahman, selain mendorong pelestarian tata cara kehidupan masyarakat tradisional yang pernah ada, mereka juga akan menggali dan mengangkat kembali ciri khas lain dari Mantar, seperti kerajinan.

”Kehidupan masyarakat Mantar yang tak biasa menggunakan kendaraan bermotor, melainkan berkuda, juga akan diangkat. Kegiatan berkuda akan menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya di Mantar. Semua itu akan ditunjang keberadaan area parayalang dan lanskap keindahan alam dari ketinggian,” kata Abdurrahman.

Abdurrahman menambahkan, sebagai bentuk promosi untuk Mantar, pada 5 April akan digelar Festival Pesona Mantar yang merupakan rangkaian Festival Pesona Tambora 2017.

Sejumlah kegiatan akan digelar, seperti barapan (balapan) kerbau dan ayam, pentas seni, lomba paralayang, dan lomba sepatu roda untuk anak.[*/hilariusjourney.wordpress.com|Sumber:Kompas,Selasa,4 April 2017|Oleh:ISMAIL ZAKARIA]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s