METE yang Menghidupi Moyo

#Kawasan perkebunan mete menjadi salah satu sektor unggulan perekonomian di Pulau Moyo, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, Selasa (28/3).

HilariusJourney.WordPress.comPESONA Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sudah lama dikenal para wisatawan dunia. Namun, penduduk pulau itu tak semata-mata mengandalkan sektor pariwisata sebagai mata pencarian. Di tanah Moyo, tumbuh sejumlah tanaman yang bisa memberikan penghidupan, antara lain jambu mete. Sepanjang perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu yang merupakan obyek wisata andalan di Pulau Moyo, dan menuju hutan lindung di sekitar permukiman warga, Selasa (28/3) siang, tampak kebun jambu mete sepanjang kanan jalan. Sambil membonceng ojek sepeda motor yang berupaya menaklukkan jalanan yang rusak parah, mata tak bisa lepas dari deretan pohon jambu mete yang mulai berbunga. Ke arah hutan lindung, hamparan perkebunan jambu mete lebih luas lagi. Kebun milik warga desa itu berbatasan langsung hingga hutan lindung. ”Jambu mete menjadi salah satu andalan masyarakat di Pulau Moyo,” kata Kepala Badan Permusyawaratan Desa Labuhan Aji Ahmad (32). Labuhan Aji merupakan satu dari dua desa di Pulau Moyo dan merupakan pusat aktivitas di pulau tersebut. Pulau Moyo yang berlokasi di utara Pulau Sumbawa dikenal sebagai obyek wisata alam yang mendunia. Sejumlah pesohor internasional pernah berkunjung ke pulau itu, misalnya Putri Diana dari Kerajaan Inggris dan petenis Maria Sharapova dari Rusia. Secara administratif, Moyo, pulau seluas 350 kilometer persegi itu, berlokasi di Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa. Pulau ini terdiri dari dua desa, Labuhan Aji dan Sebotok. Di sekitar hutan Taman Buru Pulau Moyo, yang merupakan kawasan konservasi, terdapat ladang jambu mete milik masyarakat. ”Rata-rata warga di sini punya kebun jambu mete,” ujar Ahmad. Jambu mete mulai ditanam di Pulau Moyo sejak tahun 1990-an. Penanaman pohon itu dipelopori seorang tokoh masyarakat di Desa Labuhan Aji yang melihat keberhasilan penanaman jambu mete di sekitar kaki Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jambu mete di Pulau Moyo dipanen sekali dalam setahun, yakni selama Agustus hingga November. ”Yang kami ambil hanya biji atau metenya, sedangkan buahnya kami pakai untuk pakan ternak,” ujar Ahmad. Panen jambu mete dilakukan bertahap karena hanya buah matang yang dipanen. Warga Pulau Moyo, Samsidah (48), menuturkan, dirinya memiliki kebun jambu meter seluas 10 hektar. Penghasilan dari penjualan jambu mete kerap naik-turun, bergantung cuaca. Saat cuaca mendukung, pemasukan seorang petani jambu mete bisa mencapai Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per hektar sekali panen. Namun, saat hujan kerap turun, penghasilan petani jambu mete bisa anjlok menjadi Rp 4 juta untuk lahan yang sama sekali panen. Hasil panen dijual kepada pengepul di Pulau Moyo. Samsidah menambahkan, penghasilan petani jambu mete berkurang karena ada biaya perawatan kebun yang bisa mencapai Rp 2 juta per hektar. Pengepul jambu mete di Pulau Moyo, Abidin Ahmad (60), menuturkan, selama masa panen, dirinya bisa membeli hingga 70 ton biji mete. Ia membeli mete dari petani dengan harga Rp 20.000 hingga Rp 23.000 per kilogram. Ia juga biasa menjual mete ke pembeli di Sumbawa dengan harga Rp 24.000 hingga Rp 26.000 per kg. Di Kabupaten Sumbawa, bukan hanya Pulau Moyo yang menjadi penghasil jambu mete. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa, dari 24 kecamatan, hanya satu kecamatan, yakni Ropang, yang tidak memiliki kebun jambu mete. Tahun 2015, total produksi mete di Kabupaten Sumbawa 2.103,72 ton dengan luas lahan 4.930,48 hektar.

Mulai tahun 1990-an

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Muhammad Ikhsan mengatakan, penanaman jambu mete di kabupaten itu dimulai sekitar tahun 1990-an. ”Selain dijual mentah, sebagian mete juga diolah dan dijual dalam kemasan,” katanya. Dari lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa, bukan hanya Kabupaten Sumbawa yang menjadi penghasil mete. Daerah lain di pulau itu pun memiliki lahan jambu mete. Data BPS tahun 2015, Kabupaten Bima memiliki lahan kebun jambu mete terluas di Pulau Sumbawa, yakni 10.398,62 hektar dengan produksi 2.711,62 ton. Adapun Kabupaten Dompu memiliki kebun jambu mete 10.254,95 hektar dengan produksi 2.103,66 ton. Sementara itu, di Kabupaten Sumbawa Barat dan Kota Bima, areal kebun jambu mete lebih sempit. Di Sumbawa Barat, pada tahun 2015 terdapat 984 hektar kebun jambu mete dengan produksi 151,92 ton. Sementara itu, di Kota Bima pada tahun yang sama terdapat 370,21 hektar kebun jambu mete dengan produksi 158,41 ton. Meskipun luas lahan dan besaran produksinya bervariasi, angka-angka itu menunjukkan jambu mete telah lama menjadi salah satu penggerak perekonomian Sumbawa, termasuk Pulau Moyo yang mendunia itu.[*/hilariusjourney.wordpress.com|Sumber:Kompas,Selasa,4 April 2017|Oleh:HARIS FIRDAUS]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s