Demam Si Dingin Manis dari Italia

HilariusJourney.WordPress.com – Di Yogyakarta, ”es krim” asal Italia yang dikenal dengan nama gelato sedang menjadi demam. Gerai-gerai gelato bertumbuhan bak cendawan di musim hujan. Si dingin nan manis dari Italia itu memang cocok untuk meredam udara panas Yogyakarta yang belakangan terasa membara.

Pekerja menyiapkan sajian gelato di Cono Gelatoria. Gelato di Artemy Italian Gelato

BANYAK orang mengira, gelato sama saja dengan es krim. Sama-samadisajikan dingin, sama-sama manis, dan sama-sama berbahan dasar susu. Namun, sesungguhnya, es krim dan gelato tidaklah sama. Gelato yang tengah hit ini konon lahir akibat kompetisi yang diselenggarakan keluarga Medici di Florence, Italia, yang ingin mencari makanan penutup dingin terenak. Ruggeri, warga Italia yang hobi memasak, berhasil menciptakan makanan penutup dari es serut yang dilumuri jus buah. Terkesan dengan olahan Ruggeri itu, Ruggeri pun lantas menjadi pemenang kontes. Dia lalu diboyong ke Perancis oleh seorang anggota keluargaMedici, yaitu Chaterine, agar dia bisa terus menikmati es serut buatan Ruggeri. Es serut Ruggeri berubah nama jadi gelato saat tiba di Amerika tahun 1770 berkat pria Italia bernama Giovanni Basiolo. Basiolo membawa dua jenis es serut ala Ruggeri, yaitu es serut berbasis air yang disebut sorbet atau sorbetto (Italia), dan es serut berbasis susu yang kemudian dikenal dengan nama gelato. Berbeda dengan es krim yang dibuat dari susu full cream, gelato dibuat menggunakan whole milk yang mengandung lemak lebih sedikit. Gelato juga mengandung lebih sedikit kuning telur, atau bahkan tidak menggandung kuning telur sama sekali. Sementara, es krim mengandung banyak kuning telur. Gelato juga mengandung lebih sedikit udara. Meski sama-sama dikocok dengan kecepatan tinggi untuk mendapatkan tekstur lembut, gelato dikocok lebih lambat sehingga lebih sedikit udara yang terbentuk. Hasilnya, tekstur gelato menjadi lebih padat, lembut, dan creamy. Terinspirasi dari resep dan teknik pembuatan gelato tradisional, Basiolo menciptakan gelato yang kita kenal saat ini berbahan utama susu, krim, dan gula. Kini, gelato juga ada di Indonesia, menjadi salah satu jenis makanan yang diburu dan dicari orang. Di Yogyakarta, salah satu pionir yang memperkenalkan gelato adalah Artemy Italian Gelato. Artemy membuka gerai gelato pertamanya di Jalan Perwakilan pada tahun 2010. Tahun 2010, di Yogyakarta memang belum ada gerai gelato. ”Sudah banyak gerai es krim, tetapi kalau gelato belum ada. Jadi, pangsa pasarnya bagus. Kami lalu membuka gerai pertama kami di Jalan Perwakilan,” ujar Penanggung Jawab Artemy, Sonia Stephanie, saat ditemui Kamis (16/2) di Yogyakarta. Sebagai gerai gelato pertama di Yogyakarta, respons masyarakat sangat bagus. Demi menampung pembeli lebih banyak, Artemy lantas membuka kedai keduanya di Jalan Kranggan pada akhir 2010. Seluruh produk gelato, juga sorbet, dibuat dengan bahan-bahan lokal di Yogyakarta. ”Dulu baru 20 varian. Namun, semuanya buatan sendiri dengan bahan-bahan lokal. Karena bahan bakunya fresh milk, jadi gelato lebih sehat daripada es krim karena low fat,” ujar Sonia. Beberapa rasa dasar yang diperkenalkan Artemy adalah vanila, cokelat, mint, Oreo, tutty frutty, rum raisin, dan praline hazelnut. Cita rasa gelato Artemy, selain teksturnya lembut, juga tidak terlalu manis. Jejak manisnya mudah sekali terhapus sehingga terasa ringan dan tidak membuat enek. Saat ini gelato Artemy memiliki 100 varian lebih, tetapi tak semua varian ditampilkan pada hari yang sama. ”Cuma selalu ganti setiap hari. Misal, habis ganti rasa yang lain agar konsumen enggak jenuh. Sejauh ini rasa favorit masih tutty frutty, rum raisin, durian, dan cokelat,” kata Sonia. Beberapa varian baru adalah Nutella, Ovomaltine, strawberry chessecake, Kit Kat, dan Snickers yang menjadi kesukaan anakmuda. Topping- nya berupa marshmallow, cokelat beras, sprinkle, sereal warna-warni, cookies almond, dan egg rolls. Menurut Sonia, gelato memang memiliki banyak penggemar. ”Mau pas hujan derasnya kayak apa, tetap saja ada pembeli. Apalagi kalau musim panas, makin banyak,” kata Sonia.

Bermunculan

Gelato di Ciao Gelato

Tahun 2015, gerai gelato mulai banyak bermunculan di Yogyakarta. Setelah Artemy, sebut saja Ciao Gelato Jogja di Jalan Sutomo, Myoozik Gelato di Jalan Dewi Sartika, Oh My Gelato di Ring Road Utara, Pistacchio Gelato di Jalan Affandi, Arlecchino Gelato di Jalan Simanjuntak, dan Mama Gelato di Jalan Wahidin. Namun, umumnya cita rasanya nyaris serupa, manis luar biasa. Bagi pencinta gaya hidup sehat yang ingin tetap menikmati gelato, ada Cono Gelateria di Jalan Bougenville. Gerai gelato yang didirikan Rafael Denny ini belum genap berusia satu tahun, tetapi dengan keunggulan yang dimilikinya Cono memiliki penggemar yang sangat loyal, yaitu penggemar gaya hidup sehat yang banyak tergabung di komunitas organik. ”Bahan baku gelato di Cono terdiri dari susu organik, cream, emulsifier (pengembang) alami berupa telur ayam kampung, tepung tapioka, gula, dan garam laut. Dibandingkan garam meja, garam laut memberikan rasa gurih yang tidak berlebihan,” kata Denny. Denny juga hanya menggunakan gula 10 persen agar cita rasa gelatonya tidak terlalu manis seperti gelato umumnya. Sebagai akibatnya, Denny rela menerima tekstur gelatonya yang mudah leleh dan mudah hancur partikelnya. ”Soalnya pasar Cono kan pasar sehat. Kalau gula terlalu banyak, banyak yang protes juga di leher bikin sakit,” ujar Denny. Dia juga tidak mau memberikan ”racun” dalam gelato olahannya. Karena itu, Denny selalu menggunakan bahan-bahan asli, bukan sekadar esens. ”Jadi kalau rasa vanila ya menggunakan vanilla bean asli, kalau kacang ya menggunakan kacang-kacang asli dan kalau dimakan masih ada teksturnya. Kalau stroberi, ya pakai stroberi asli,” kata Denny yang hingga kini telah memiliki sekitar 25 varian. Beberapa yang favorit adalah macha green tea, charcoal vanilla, cioccolato, dan bluebbery chessecake.[*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber : Kompas , Minggu, 19 Feb 2017 |OLEH  : DWI AS SETIANINGSIH]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s