Si Komodo Gunung dari Cisarua

Perjuangan panjang Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, untuk menyelamatkan komodo dari ambang kepunahan berbuah indah. Perkawinan antara komodo jantan bernama Rangga dan komodo betina bernama Rinca menghasilkan 26 butir telur.

#berjemur

Perjuangan panjang Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, untuk menyelamatkan komodo (Varanus komodoensis) dari ambang kepunahan berbuah indah. Perkawinan antara komodo jantan bernama Rangga dengan komodo betina bernama Rinca telah menghasilkan 26 butir telur. Dari 26 telur itu, terlahirlah 21 anak komodo. Bayi komodo pertama di dunia yang lahir dalam balutan kesejukan alam pegunungan. Kurator reptil Taman Safari Indonesia (TSI) Imam Purwadi menyampaikan bahwa kelahiran 21 anak komodo di TSI adalah kejadian langka di dunia. Komodo menjadi hewan dengan status vulnerable atau rentan dan terancam punah karena, selain akibat perburuan, sulit untuk dikembangbiakkan di luar habitatnya. ”Ini peristiwa yang luar biasa.

#cangkang telur

Sewajarnya komodo lahir di daerah panas dengan ketinggian kurang dari 100 meter di atas permukaan laut. Namun, ternyata di kawasan dingin Cisarua yang ketinggiannya lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut juga bisa. Setelah 30 tahun TSI berdiri, baru sekarang penantian itu berakhir,” tutur Imam. Menetasnya komodo ini merupakan hasil dari rencana kerja TSI Bogor yang dimulai dari lima tahun lalu dengan membentuk tim khusus Komodo Breeding. Diawali dengan mengumpulkan referensi perawatan dan studi banding ke beberapa tempat, seperti ke Ceko. Hal ini menghasilkan konsep, pemikiran, dan rencana kerja. Sebuah kandang pamer berukuran 20 meter x 18 meter x 12 meter dibangun dengan fasilitas dan sistem yang modern dan canggih untuk memanipulasi lingkungan menjadi seperti habibat

#Anakan Komodo

aslinya. Energi yang dibutuhkan sebesar 28.000 watt untuk meningkatkan suhu dari 18 derajat celsius menjadi 40 derajat celsius, serta menurunkan kelembaban dari 99 persen menjadi 60 persen. Itu agar metabolisme komodo di dalam kandang dapat berjalan dengan baik. Tepat pada 17 Agustus 2016, Rangga dan Rinca memberikan kado di Hari Kemerdekaan Indonesia berupa 26 butir telur komodo. Telur itu ditempatkan di dalam inkubator dengan suhu dan kelembaban yang stabil selama 6,5 bulan. Sebanyak 21 anak komodo pun hadir. Mereka mulai menetas bertahap sejak 2 Maret hingga 14 Maret 2017. Setelah menetas, tim Komodo Breeding melakukan pembersihan, pengukuran, dan penimbangan badan terhadap anak komodo. Kandang perawatan serta pakan disiapkan untuk mendukung perawatan dan perkembangan dari anak komodo. Mereka dipisahkan satu dengan yang lainnya karena komodo memiliki sifat kanibal, yakni saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup.

#Menikmati Telur Omega3

Keberhasilan TSI mengembangbiakkan komodo di alam pegunungan adalah potret berharga di bidang konservasi satwa langka endemik Indonesia. Dari atas pegunungan di Cisarua, kita diajarkan bagaimana menjaga keanekaragaman satwa Indonesia menjauh dari jurang kepunahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s