Menyusuri Hutan Bakau, Merayakan Alam

MENYUSURI hutan bakau primer di Mangrove Center Balikpapan, Kalimantan Timur, merupakan sebuah perjalanan untuk melepas penat dan menuntaskan kerinduan akan alam.Semilir angin berpadu gemeresik bakau, dan keheningan yang diselingi suara serangga dan bekantan juga menyegarkan jiwa.

HilariusJourney.WordPress.com SORE hari adalah saat terbaik untuk menikmati sejumput surga dunia yang masih tersisa ini. Meski matahari masih bersinar, kanopi-kanopi bakau mampu meneduhkan siapa pun yang berkunjung.

Bersantai di ”teras” kawasan itu saja sudah mengasyikkan, apalagi masuk hingga ke sudut-sudut kawasan.

Mangrove Center Balikpapan terletak hanya 10 kilometer dari pusat kota Balikpapan, tepatnya di ujung kompleks perumahan Graha Indah, Balikpapan.

Meski letaknya tidak jauh dari pusat kota, pengunjung tetap dapat menyaksikan ratusan hektar hamparan bakau yang nan hijau yang terbelah oleh sungai-sungai.

Setelah menyusuri jembatan yang dibangun dari papan-papan ulin sepanjang 50-an meter, pengunjung tiba di dermaga kecil, tempat beberapa perahu fiber dan kayu bermesin tempel bersandar.

Hari Minggu (19/2/2017), ketika Kompas tiba di sana, Herman, warga setempat yang menjadi motoris (pengemudi) perahu, mengantar kami berkeliling.

Perahu yang memuat 7-8 orang ini kemudian bergerak perlahan membelah air. Melewati anakan sungai yang lebarnya hanya 4-6 meter, berkelok-kelok, dan airnya hanya sedalam 1-2 meter ini, Herman mengemudikan perahu dengan sangat hati-hati.

Melaju di bawah rindang bakau, sinar mentari pun tersaring sehingga sore seolah senja di sini. Udara pun terasa segar.

Ketika kami memperhatikan alam, terlihat pula kepiting-kepiting bakau yang menyembul dari akar-akar meski seketika pula bersembunyi.

Semakin dalam masuk ke rerimbunan hutan bakau, telinga menangkap suara nyaring aneka serangga yang entah bersembunyi di mana.

Bersua bekantan

Berpadu gemeresik daun-daun ada suara-suara geraman, dan lengkingan yang menyeruak. Itulah suara bekantan. Namun, di mana bekantan- bekantan itu?

” Bekantan itu satwa pemalu, begitu mendengar suara, biasanya mereka kabur,” ujar Ketua Mangrove Center Balikpapan Agus Bei.

Jadi, mulut harus dikunci rapat-rapat. Herman lalu mengarahkan perahu ke tepi hutan untuk mencari sungai kecil agar perahu fiber sepanjang 3 meter dan selebar 1 meter ini dapat masuk lebih dalam ke hutan.

Sungai kecil ditemukan, perahu diarahkan masuk ke sungai kecil itu kemudian mesin tempel dimatikan, dan kami menunggu. Hanya menunggu dalam diam.

Tiba-tiba terdengar suara terutama dari atas dedaunan bakau. Lengkingan, geraman, teriakan, hingga suara seperti dengkuran makin terdengar.

Dedaunan pun tersibak, dahan bergerak, dan terlihat sesosok kecil fauna berukuran setara kucing memperhatikan kami.

Inilah fauna yang kami tunggu, bekantan (Nasalis larvatus), penghuni asli kawasan tersebut. Primata ini dikenal pula sebagai ”monyet Belanda” lantaran rambut tubuh yang coklat kemerahan dan hidungnya yang besar.

Pada sore hari, biasanya bekantan bergerak untuk mencari makan. Ternyata, bekantan itu tidak sendiri.

Tidak lama kemudian, delapan anak bekantan memperlihatkan diri dalam radius 15-30 meter dari perahu. Namun, secepat mereka muncul, secepat itulah mereka menghilang di balik rerimbunan bakau.

Tidak terlalu jauh, terlihat beberapa bekantan dewasa. Mereka terlihat mengawasi pergerakan anak-anak bekantan, dan mendadak kami merasa diawasi oleh banyak mata.

Memang, tidak mudah mendekati bekantan. Kami melihat sendiri induk-induk bekantan yang seolah mengingatkan anak-anaknya untuk tidak mendekati manusia.

Hutan bakau ini memang habitat para bekantan. Ketika gerimis mulai turun dan hawa terasa sejuk, bekantan pun malah bermunculan.

”Tetapi, justru saat cuaca begini, bekantan suka muncul dan makan. Dia ( bekantan) enggak suka cuaca panas. Manja juga nih hewan, ha-ha-ha,” kata Herman.

Setelah puas melihat kawanan bekantan, mesin perahu kembali dinyalakan. Setelah menembus ”tembok” bakau berumur puluhan tahun yang menjulang 10-20 meter, perahu kembali membelah air berwarna kehijauan yang memantulkan bayangan bakau-bakau.

Kami dibawa menuju alur sungai yang lebih lebar. Tak seberapa lama, tampak Sungai Somber, sungai utama di kawasan itu. Sungai selebar 100-an meter yang bermuara di Teluk Balikpapan ini menjadi salah satu batas kawasan Mangrove Center Balikpapan.

Dikelola masyarakat

Luas Mangrove Center hanya 150 hektar. Namun, karena bergandengan dengan ratusan hektar hutan bakau primer, seolah menjadi satu kesatuan.

Pada Juli 2010 lalu, demi perlindungan terhadap kawasan itu, Wali Kota Balikpapan saat itu, Imdaad Hamid, mencanangkan Mangrove Center Balikpapan sebagai kawasan konservasi.

Padahal, inisiatif awalnya dari masyarakat yang menanam kembali bakau sejak tahun 2000-an. Kawasan itu kemudian berkembang menjadi ikon wisata Balikpapan, dengan pengelolaan di tangan warga setempat.

Tiap minggu, ratusan wisatawan singgah. ”Masih banyak ikan di sini. Saya masih dapat menangkap ikan kakap seberat 2 kilogram,” kata Herman, yang hobi memancing.

Banyak pejabat, kepala daerah, juga para pelajar dan mahasiswa pernah ke Mangrove Center Balikpapan. Kawasan ini juga seakan laboratorium alam bagi para peneliti dan akademisi.

Tanpa menyusuri sungai di hutan bakau, pengunjung dapat bersantai di tepian sungai, duduk di gazebo ulin, atau naik ke gardu pandang setinggi 12 meter.

Menurut Agus Bei, apabila Mangrove Center Balikpapan ingin dipertahankan selamanya, lebih baik lahan milik warga itu dibeli Pemkot Balikpapan. Perlindungan dengan rencana tata ruang dan wilayah dinilai tidak terlalu kuat.

Meski demikian, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengakui keterbatasan dana pemerintah untuk membeli lahan Mangrove Center Balikpapan. Dengan demikian, konservasi harus mengandalkan komitmen warga untuk menjaga hutan bakau.

[*/hilariusjourney.wordpress.com |sumber : Kompas edisi 24 Maret 2017, di halaman 24 dengan judul “Menyusuri Hutan Bakau, Merayakan Alam” | Oleh :LUKAS ADI PRASETYA]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s