PESONA CACI DAN TETE ALU DI LABUAN BAJO

HilariusJourney.wordpress.com  –   PAGI masih muda ketika kami berlompatan memasuki mobil yang akan membawa kami ke luar dari hotel di kawasan Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai, NTT. Di luar, titik-titik embun masih bergelayut di antara dedaunan yang bergoyang diterpa kesiur angin pagi. Dingin dan sepi.

Hari itu, kami tak berencana bermain air dan menyaksikan ombak yang bergulung di pantai dengan pasirnya yang lembut di telapak kaki. Rencana kami pagi itu, adalah melihat Labuan Bajo dari sisi lain, yaitu dari ketinggian 624 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat.

Lokasinya tak terllau jauh. Dari Labuan Bajo, Kiang Ndara ditempuh selama 45 menit sampai satu jam. Aksesnya pun cukup mudah kerena melewati jalan raya Trans-Flores-LabuanBajo-Ruteng yang kondisinya cukup mulus.

Hanay 15 menit terakhir mendekati Liang Ndara, jalanan yang semula lurus dan mulus berubah berkelok-kelok karena melewati punggung pegunungan yang makin lama makin tinggi. Pemandangan dari dataran tinggi ini menyajikan wajah Manggarai yang selama ini tersembunyi oleh keindahan pantai dan lautnya yang biru di Labun Bajo.

Di Manggarai, Liang Ndara dikenal sebagai desa wisata. Desa yang terdiri atas tiga kampong, yaitu Kampung Melo, Cece, dan Mamis, ini sejak 13 tahun lalu suda hdibuka untuk kunjungan wisatawan baik local maupun asing. Pesona alam dataran tinggi Liang Ndara yang masih alami menjadi daya tarik yagn membuat banyak wisatawan datang berkunjung.

Lima tahun terakhir, Liang Ndara semakin dikenal dengan berbagai aktivitas budaya yang disuguhkan. Dua jenis kesenian tradisional yang populer adalah caci dan tete alu. Inilah yang ingin kami nikmati selama berada di Manggarai bersama tim Wondernesia, program pariwisata yang ditayangkan di saluran berbayar TLC, dipandu Nadya Hutagalung.

Caci adalah tarian khas rakyat Manggarai yang ditujukan sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh warga. Caci ditarikan oleh laki-laki dengan iringan music berupa gong dan kendang yang dimainkan oleh perempuan atau bisa juga laki-laki.

Sekilas tarian ini terkesan seram dan sedikit kejam. Ada aura pertarungan yang meruap di antara kedua penari yang berhadapan memegang cambuk untuk saling memukul dan tameng untuk berlindung.

Suara cambuk yang diputar-putar di udara, lalu dilecutkan kepada lawan, sungguh membuat dada kami yang menyaksikan berdegup kencang. Apalagi jika cambuk itu mengenai kulit yang dengan serta-merta mengcurkan darah. Aduhhh…

Namun, di balik kengerian itu ada keindahan yang tersaji karena di dalam caci terkandung tiga unsur seni. Selain unsur tari, para penari juga berlagu yang dimaknai sebagai lantunan doa kepada pencipta dan roh leluhur.

Pada kostum yang dikenakan para penari, khususnya di bagian kepala, ada lima sudut yang melambangkan symbol keyakinan hidup orang Manggarai. Rumah sebagai tempat perlindungan, kampong sebagai pusat persatuan, air sebagai sumber kehidupan, kebun sebagai sumber kesejahteraan, dan gerbang sebagai penjaga atau pengawal kampong.

Paduan gerak tubuh, lagu, dan seni busana yang indah itu menyajikan kesatuan yang padu, yang akan menghapus kesan seram dan kejam pada caci. Di antara awan putih yang berarak di langit biru. Liang Ndara, para penari caci menampilkan keluwesan dalam gerakan-gerakan mereka yang gagah.

Ungkapan Syukur

Kristoforus Nison, Ketua Sanggar Riang Tana Tiwa yang berpusat di Kampung Cecer, mengatakan, dahulu caci digelar selah panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada para leluhur dan pencipta semesta. Di dalamnya terdapat filosofi untuk menghormati dan memuji para leluhur dan pencipta atas kesehatan dan keberhasilan panen.

Caci digelar saat orang Manggarai membuka kebun. Dengan caci yang diwaranai tabuhan gong dan kendang roh leluhur yang baik akan hadir, sementara roh yang jahat akan pergi,” ujar Kristoforus. Dalam perjalanannya, caci kemudian dilakukan saat upacara keagamaan dan upacara kenegaraan, salah satunya untuk menyambut wisatawan yang datang berkunjunga ke Liang Ndara seperti kami.

Tak kalah seru dengan caci adalah tete alu, tarian atau bisa juga disebut permainan tradisional yang dimainkan oleh sekelompok orang. Biasanya berjumlah delapan orang. Cara memainkannya adalah dengan bergerak di antara bilah-bilah bamboo yang digerakan dengan cepat. Tete alu adalah tarian untuk muda-mudi, biasa dimainkan kala bulan purnama tiba.

Dibutuhkan keterampilan dan konsentrasi tinggi bagi penari agar kaki tak terjepit bilah bamboo. Demikian pula dengan orang yang bertugas menggerakkan bilah-bilah bamboo. Menjajal tete alu, entah sebagai penari atau penggerak bilah bamboo, sama sekali bukan perkara mudah bagi pemula seperti kami.

Menikmati tete alu dan memandang Labuan Bajo dari ketinggian sungguh menghadirkan perasaan berbeda. Ada kegimbaran yang menular saat menyaksikan para penari bergera klincah dan penggerak bilah-bilah bamboo berkonsentrasi menggerakkan bilah-bilah bamboo yang menimbulkan  irama ritmis.

Sayang, wkatu kami terlalu sempit. Kalau saja cukup waktu, masih banyak pesoan alam yagn ingin kami nikmati di Liang Ndara, seperti menyusuri Hutan Mbeliling yang menyimpan keanekaragaman hayati dan satwa endemic. Ada burung nuri, gagak flores, kehicap flores, dan serindit flores.

Labuan bajo identik dengan laut dan langitnya yang biru. Biru yang akan membara saat matahari terbit di pagi hari dan terbenam di kala senja. Tapi, di dataran tinggi Manggarai, tak jauh dari Labuan Bajo, ada caci dan tete alu yang juga tak kalah indah dan mengundang rasa penasaran.

#Matahari terbenam (sunset) di Labuan Bajo

Atau bisa juga tinggal sejenak di Kampung Cecer, menikmati waktu yang lesap  di antara alam yang sunyi. Menyaksikan aktivitas sehari-hari masyarakatm memetik kopi, memecah kemiri, dan menumbuk kopi Manggarai agar siap diseduh untuk menemani detik yang berganti menit tanpa ketergesaan.Labuan bajo memang tak hanya laut dan langit biru…[Sumber : Kompas, Minggu, 14 Februari 2016 | Oleh : DWI AS SETIANINGSIH]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s