REMI COLBALCHINI |Sebulan Mendaki 21 Gunung Api

HilariusJourney.WordPress.comRASANYA luar biasa bisa menyelesaikan ini. Awalnya, saya sempat ragu apakah cukup 15 gunung api saja atau 20. Akhirnya, saya pastikan 20 gunung api. Ternyata, saya bisa mendaki 21 gunung api.” Ucapnya bersemangat. Minggu (14/5), sesaat sebelum meninggalkan indonesia untuk kembali ke negara asalnya, Perancis.

Persiapan dilakukan beberapa bulan sebelumnya, baik persiapan fisik, peralatan, maupun uang. Misi yang dinamainya Kaki Api itu dimulai pada 6 April 2017. Gunung pertama yang dituju adalah Sibayak di Medan, Sumatera Utara.

Rata-rata, ia menghabiskan 3 jam untuk mendaki suatu gunung dan 3 jam untuk turun. Ia bhakna menyelesaikan pendakian Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dalam 9 jam saja.

Bagi Remi, mendaki gunung seperti init tidak sekadar membutuhkan kekuatan fisik. Lebih dari itu, perencanaan dan focus selama perjalanan amatlah penting.

Tanggal 6 Mei lalu, Remi merampungkan pendakian gunung Iya di Ende, Flores, NTT. Itu adalah gunung ke-21 dalam rangkaian KakiApi ini.

Alam dan Sampah

Sepanjang perjalanan, Remi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan keelokan alam dan beragamnya fauna di gunung api. Dengan mudah, ia menemukan aneka jenis burung, terbangun oleh gerakan musang dan monyet.

Hanya saja, keindahan alam itu terkoyak oleh banyaknay sampah yang berserakan hampir di semua gunung. Semaki nbanyak gunung itu didaki orang, semakin banyak jejak sampahnya.

“Anda tahu bagaimana saya tidak tersesat saat menemukan percabangan jalan? Saya lihat jejak sampahnya. Kalau jalan itu bersih dari sampah, bisa dipasatikan saya salah jalan,” ucap pria yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia itu.

Pengalaman itu, menurut Remi, merupakan ironi di alam terbuka yang indah. Di perjalanan, ia pun masih meliaht sejumlah pendaki yang membuang sampah sembarangan di perjalanan.

Mendaki gunung gerapi ini juga membawa Remi bertemu dengan orang-orang baik. “Ada juga penadki yang menawari saya kopi. Tapi, karena saya memburu waktu, saya tidak bisa menerima tawaran itu,” ujarnya.

Karena memburu waktu, Remi menyiapkan logistiknya di sekitar jalur pendakian. Ia pun mempertimbangkan barang bawaan yang ringan agar bisa menaki gunung dengan cepat.

Lantaran sebelumnya sudah 1,5 tahun di Indonesia, Remi pun terbiasa makan nasi. Jadilah nasi bungkus dengan lauk telur menjadi bekal setianya mendaki gunung, di samping biscuit dan air mineral. “Nasi bagus untuk energy dan stamina. Membuat saya tidak mudah lapar,” jelasnya.

“Saya biasanya minta dibuatkan nasi bungkus di warung yanga ada di desa terakhir. Saya bawa nasi bungkus karena di atas gunung saya tidak memasak demi menghemat waktu,” tuturnya.

Kehilangan tenda

Remi menyelesaikan hampir seluruh pendakian ini seorang diri saja. Hanya pendakian satu gunung yang ditemani oleh temannya, yakni Gunung Ciremai.

Pengalaman buruk dialaminya saat mendaki Gunung Merapi di Sumatera Barat. Saat aka nemnuju puncak, ia meninggalkan tenda dan sejumlah logistiknya di pos terakhir. Hal ini sebenarnya lumarah dilakukan setiap pendaki.

Sekembalinya dari puncak, REmi mendapati barang-barangnya sudah raib. Padahal, ia hanay meninggalkan barang itu sekitar 1 jam saja. Remi sempat stress karena kehilangan banyak barang, padahal perjalanannya masih panjang.

Ketidakamanan di jalur pendakian itu yang membuat banyak orang di Indonesia lebih suka mendaki berkelompok. “Saya sering membuat orang kaget saat mengatakan saya mendaki sendirian, tanpa teman,” ucapnya.

Pesawat hingga ojek

Remi membiayai sendiri hampir seluruh pendakian gunung. Sebagian besar pembiayaan ini habis untuk transportasi, terutama pesawat terang. Di jawa, ia menggunakan kereta api untuk mencapai kota-kota tempat pendakian dimulai. Sesekali, ia  menggunakan kapal, seperti saat akan mencapai Lombok.

Adapun transportasi menuju kaki gunung lebih banyak ditempunya dengan sepeda motor, baik dnegna menyewa sepeda motor dan mengendarainya sendiri maupun dengan menggunakan jasa ojek.

Pilihan moda transportasi yang terbatas ini juga membuat Remi harus mencoret sejumlah gunung api dari daftar, antara lain Gunung Arjuno, RAo, dan Tambora. “Untuk mencapai gunung itu, dibutuhkan 1 hari untuk pulang dan 1 hari untuk berangkat. Dengan perhitungan waktu 1 bulan, saya tidak mungkin mencapainya,” kata Remi.

Pengalaman KakiApi ini menginpirasi Remi utnuk menyiapkan detail informasi pendakian gunung berapi yang ada di Indonesia.

“Bagi orang Perancis, hanay 1-2 gunung berapi di Indonesia yang akrab, seperti Rinjani dan Bromo. Tapi ,yang lain mereka tidak tahu. Menurut rencana, saya mau membagikan pengalaman saya ini,”
 ujarnya.

Sejumlah kosakata kunci, seperti jalur,puncak, kiri, kanan, apakah ojek ada? Rental motor?, menjadi tambahan kata-kata penting yang akan dicantumkan dalam bukunya. Kosakata ini, menurut Remi, penting karena sebagian besar warga di kaki gunung hanya mengenal bahasa Indonesia.

Akrab sejak kecil

Mendaki bukit diakrabi Remi sejak kecilm memang, bukan mendaki gunung berapi karena di Perancis tidak ada gunugn api. Yang ada sadalah deretan Pegunungan Alpen.

“Di Perbukitan Alpen, saya dan adik laki-laki saya sering diajak mendaki buit pada musim panas. Wkatu itu, saya berumur sekitar 10-11 tahun. Itu jalru akrab buat kami karena dilakukan setiap sekali dalam sebulan,” katanya.

Menginjak usia 25 tahun, Remi mulai menjajal marathon atau trail race alias berpacu di alam. “Dan saya menyukainya,” ucapnya sambil tersenyum.

Pengalaman itu kian terasah saat ia mendapatkan kesempatan bekerja di Indonesia. Waktu itu, ia bergabung dengna sebuah perusahaan di Perancis yang menjual peralatan pendeteksi seismic dan gempa bumi. Sebagai insinyur, Remi dipercaya untuk menjelaskan penggunaan alat kepada klien serta memperbaiki alat jika rusak.

Salah satu pengguna alat itu adalah BMKG. Jadilah ia terikat kontrak untuk menajalni tugas itu di Indonesia pada 1 September hingga  28 Februari 2017. “Ketika di Indonesia, saya mengecek situs, apakah ada kegiatan marathon atau trail race. Ternyata ada. Lalu saya ikuti Rinjani Race dan Bromo Race. Itu asyik. Lomba lari di gunung berapi,” kata Remi bersemangat mengenang kembali pengalamannya itu.

Di pengunjung masa kerjanya, dia berambisi membuat rekor sendiri. Saat itulah ia mulai menimbang proyek KakiApi ini. Nama KakiApi, menurut Remi tercetus setelah ia mempertimbangkan sejumlah hal.

“Awalnya ada banyak pilihan nama. Saya sampai lupa jumlahnya. Tetapi, saya lebih sreg dengan nama KakiApi karena pada KakiApi itu terdengar bagus di Perancis. Itu seperti nama keren untuk anak kecil,” ujarnya.

21 gunung yang didaki : Sibayak, sibuatan, Marapi, Singgalang, Kerinci,Gede,Pangrango, Ciremai,Slamet,Sindoro,Sumbing,Merapi,Merbabu,Semeru,Bromo,Ijen,Agung, Rinjani,Inerie,Wawomuda,Iya.

RÉMI COLBALCHINI

Lahir:

22 September 1988

Pendidikan:

Engineer dari Supelec, Paris

Engineer dari Politecnico di Milano

Tinggal:

Vence, Nice

Tentang KakiApi:

Waktu pelaksanaan 1 bulan, yakni 6 April-6 Mei 2017

21 gunung yang didaki: Sibayak, Sibuatan, Marapi, Singgalang, Kerinci, Gede, Pangrango, Ciremai, Slamet, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Ijen, Agung, Rinjani, Inerie, Wawomuda, dan Iya.

Sejumlah gunung api itu terletak di 6 pulau

Perjalanan menggunakan 5 pesawat terbang, 4 perahu, 5 kereta api, bus, dan ojek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s