PILGRIM

HilariusJourney.WordPress.com –  Apa rasanya menyusuri sejumlah tempat bersejarah di masa lalu yang kemudian dijalani hari ini? Ada perasaan takjub, ada perasaan bersyukur, sekaligus hormat kepada mereka yang pernah tinggal di sejumlah tempat bersejarah yang sekaligus mengukir peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut.

Nazareth

Tempat-tempat tersebut menjadi bersejarah bukan sekadar karena letaknya dalam planet Bumi, tetapi terutama karena persinggungannya dengan tokoh penting di masa lalu yang memiliki makna besar dan hingga hari ini tetap dikenangkan.

itulah yang mau coba ditampilkan oleh penulis buku ini, Trias Kuncahyono, wartawan senior Kompas yang memiliki pengetahuan luas masalah Timur Tengah. Buku ini adalah buku ke-9 yang bertemakan maslah Timur Tengah, karya dari tulisan lulusan jurusan Hubungan Internasional, UGM, itu. Sedikit berbeda dari buku-buku sebelumnya, buku ini secara khusus mau meliaht Timur Tengah dair sisi perjalanan ziarah atas sejumlah tempat serta situs yang dinilai penting oleh umat Kristiani, Muslim, dan Yahudi.

Bukit sabda bahagia

Perjalanan ini dimulai dari Yordania, tepatnya di gunung Nebo, tempat yang memiliki nilai penting bagi Nabi Musa yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Dari Gunung Nebo, penulis dan dua rekan seperjalanannya meneruskan ziarah ke Qumran, kota di sebelah barat laut Mati. Dari situ perjalanan berlanjut ke daerah lain, seperti Palestina (Bukit Sabda Bahagia), Kota Kapernaum, Gunung Tabor, Kana, Nazareth, Bethlehem, Jerusalem, Taman Gethsemane, Bukit Zaitun, Golgota, dan terakhir Yerikho.

Ziarah wartawan

Buku ini ditulis dari kacamata bukan seorang wisatawan, melainkan seorang wartawan senior. Seorang wisatawan atau pelancong mungkin akan leibh teratrik pada tempat-tempat indah (atau bahasa anak milenial itu: tempat yang “instagram-able”-tempat yang jika difoto akan  terlihat indah untuk dimasukkan pada jaringan media sosial instagram), kemudian akan tertarik pada oleh-oleh atau kenangan tertentu yang bisa dibeli untuk diri sendiri, atau untuk dibagikan kepada orang lain. Seorang pelancong juga mungkin akan juga memusatkan perhatian pada hal yang menyenangkan seperti pemandangan, makanan, dan bingkisan.

Betlehem bazilika

Seorang wartawan yang mengunjungi tempat bersejarah punya cara pandang lain. Ia menapaki kota satu ke kota lain karena satu alasan tertentu: tempat itu bernilai penting dalam rentang waktu hidup manusia sejak ribuan tahun yang laulu. Ketika si wartawan melangkahkan kaki, ia tidak berjalan dengan kepala kosong. Sebaliknya, di kepala banyak terisi berbagai referensi untuk mengiringi langkahnya. Oleh karena itu, buku ini tak sekdar mengajak pembacanya menyusuri jejak fisik langkah-langkah dari satu kota ke ktoa lain, setapi megnajak pembacanya juga menyusuri ide penting apa yang menandai satu kota dengan kota lainnya.

Momen sejarah yang menghasilkan ziarah bagi umat Kristiani berksiar dalam kehidupan sosok Kristus yang pernah mendahuluinya. Itulah yang juga disusuri oleh Trias dalam bukunya. Meskipun suatu perjalanan  ziarah pribadi, bukan mustahil ziarah ini akan juga dinikmati oeh pembaca buku ini.

Penulis, yang sudah tiga decade berkarya di harian Kompas, lancar bertutur soal Nabi Musa, Bunda Maria, Yesus yang menyejarah, hignga riwayat kota-kota yang dilalui. Dua rekan perjalanannya, Erick dan Emannuel, berperan sebagai perangkai dialog antara kota yang dilalui dengan pergulatan batin yagn dirasakan penulisnya. Lontaran-lontaran Erick ataupun Emannuel, walau kadang terdengar naïf, direspons penulis dengan sabar menjelaskan sejarah suatu kota, suatu peristiwa. Terkadang penulis cukup menyodorkan apa yang tertulis dalam kitab suci guna menjelaskan hal yang membingungkan dua rekan seperjalanannya.

Jejak Masa Lalu

Inilah Gunung Nebo yang rencananya akan diledakan dengan bom oleh Osama bin laden!

Banya kreferensi masa lalu dan masa kini dipergunakan penulis untuk merangkai isi buku. Ini membuat pembaca diajak tidak hanay berkelana di masa lalu, tetapi juga diajak untuk melihtat apa kondisinya pada hari ini, misalnay ancaman Osama bin Laden yang hendak mengebom Gunung Nebo pada tahun 2000, kunjungan Paus, dan lain-lain. Banyak foto menghiasi halaman-halaman buku ini dan membuatnya jadi lebih nikmat membacanya.

Jika ada komentar yang bisa diberikan pada buku ini, mungkin pada soal bagaimana banyaknya keterangan atau informasi yang penuh dimasukkan dalam buku perlu lebih diramu untuk menjadikannya lebih manis. Penulis terkesan banyak menyembunyikan perasaannya ketika melintasi belasan atau puluhan tempat bersejarah tadi. Batin penulis seakan hendak ditutupi dan digantikan dengan pengetahuan atau pun bacaan yang dimilikinya. Padahal, akan menarik juga utnuk membaca apa kiranya hasil olahan batin penulis terhadap momen berserjarah yang telah ia lihat tersebut.

Saya jadi ingat dengan buku kecil yang peranh ditulis oleh almarhum YB Mangunwijaya. Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987), dimana ia berkisah tentang perjalanan yang ia lakukan sejumlah tempat di dunia. Kala itu belum lagi disebut sebagai zaman globalisasi. Perjalanan yang dilakukan Mangun tersebut tak hanya mengajak pembaca membayangkan pemandangan dari kota yang berbeda-beda itu, tetapi terutama karena Mangun juga mengajak kita berkelana ke mata batin pengalaman umat manusia.

Saat ia berkunjung ke sejumlah kota di Jerman, misalnya Mangun menulis soal kelompok Baider Meinhof, yang awalnya adalah kelompok mahasiswa di Jerman tahun 1960-an yang tergolong anarkis, tetapi kemudian menjadi kelompok bersenjata. Mangun lalu bertanya, mengapa ketiak sekelompok anak muda ini mengangkat senjata, lal umereka ini mudah dilabel sebagai teroris, sementara ketika angkat senjata yang sama dilakukan olen negara tertentu, hal tersebut tak disebut sebagai terorisme?

Yerikho

Tentu saja membaca buku ini memberikan manfaat kepada pembaca untuk mengenal jejak-jejak peristiwa masa lalu dan sejumlah kota penting yang masuk di dalmanya. Penjelasan penulis yagn serba lengkap soal peristiwa, rujukan pada kitab suci, rujukan pada referensi lain, menambah nilai buku ini, tetapi sayang berberapa bagian agak luput dari sisi detail, misalnya berapa lama perjalanan ini dilakukan, makanan apa yang dikonsumsi dari kota yang berbeda-beda itu, cuaca seperti apa yang dirasakan penulis, apa tradisi lokal yang menarik, apa yang dilihat penulis terhadap kondisi masyarakat  setempat. Detail ini mungkin akan jgua menambah daya tarik buku ini. [*/hilariusjourney.wordpress.com | Sumber : Kompas, Sabtu, 27 Mei 2017 | Oleh : IGNATIUS HARYANTO | Pengajar Jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s