RAMEN PUN DIMODIFIKASI

Dulu, ramen dijajakan dengan gerobak. Sejak 1920-an, ramen mulai dijajakan di kedai permanen lalu merambat ke restoran

HilariusJourney.wordpress.com – Seperti di Jepang, ramen di Indonesia juga tumbuh dengan banyak pilihan rasa yang dimodifikasi sesuai lidah kita. Perihal rasa itu, Sylvia Wijaya, pengusaha resto ramen yang belajar memasak ramen dari pembuat aslinya di Jepang, menyatakan, cita rasa ramen terutama terdapat pada rasa dari sup dasar. ”Di Jepang, setiap kedai ramen memiliki cita rasa berbeda-beda,tergantung dari keunikan campuran bumbu sup dasar tiap pemilik kedai ramen,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (16/3).

Keleluasan mengembangkan varian ramen mendorong Sylvia membuat penyesuaian sesuai selera konsumen. Meski demikian, Wabito Ya Ramen, restoran miliknya di Jakarta, berusaha memegang resep dasar Jepang. Untuk menjaga cita rasa, beberapa bumbu kaldu ikan ,bumbu shoyu (kecap asin Jepang) masih harus impor dari Jepang. Sebagia nbesar bahan lain dari lokal.

Memasak ramen perlu disiplin tersendiri. Di dapur chef Indara dan Mahmus, ada enam alarm. Tiap bagian memasak dibatasi waktunya khusus. Menggoreng ayam untuk karage (pelengkap ramen) harus disuhu tertentu sehignga rasa yang dihasilkan nikmat.

Di antara sekian banyak menu ramen di Wabito Ya Ramen, ada Tonkutsu ramen. Itu semangkuk mi berkuah pansa dengna potongan kol rebus setengah matang, potongan daging dan telur. Rasanya gurih dan sedap.

Menu lain yang unik, Mabou men ramen. Dalam kuah yang agak kental ada mie, dengan irisan tofu (tahu Jepang). Rasanya agak peda dan di atasnya bertabur irisan daun bawang. Kemudian ras ramen jeni in iterletak pada kuah, ras peada, dan irisan daun bawang. Begitu suapan ramen menyentuh lidah, lidah serasa bergoyang.

“Mabou Men menjadi pilihan para vegetarian, tapi penyuka ramen,” jelas Indri, staf restoran yang banyak dikunjungi warga Jepang dan Indonesia tersebut.

Bongkar pasang

ramen.jpg
Yoikina Ramen, Depok

Kebebasan memodifikasi itu juga memberi inspirasi kepada para pemilik warugn ramen lain untuk bereksperimen. Widodo (37), pemilik warung Yokina Ramen di Kukusan, Depok, Jabar, misalnya meramu resep ramennya. Ia belajar dari mencoba makan ramen di Bandung, Jakarta, lalu mencari tahu dari informasi di internet, bertanya kepada kawan-kawangnya, sampai mencobanya sendiri.

Butuh waktu delapan bulan untuk menemukan formula resep yang pas. “Berkali bongkar pasang baha, hasilnya coba saja. Saya berprinsip menjual makanan enak yang sehat. Jadi, selain enak, halal, juga sehat. Tak ada pengawet dan vetsin,” kata lelaki asal Wonogiri yang membuka warung ramen tahun 2-14 itu. Demi prinsip itu, ia membuat mi ramen sendiri dan mengimpor bumbu Jepang.

Dari puluhan kali mencoba, ia akhirnya menemukan aneka rasa ramen. Ada rasa kari, tongyam, dan kimchi yang cocok bagi lidah banyak orang. Rasa ramen di warung juga sedap, walau rasa kaldunya agak ringan.

Salah satu varian yang masuk rekomendasi, Ramen Tomyan yang bercita rasa segar, misalnay ,sangat cocok dinikmati di siang hari yang terik. “Tidak hanya mahasiswa kita, mahasiswa asal Jepang dan Korea yang sedang kuliah di Ui pada suka ramen ala Yokina,” katanya.

Kerja keras Widodo dalam tempo singkat berbuah manis. Ramen hasil modifikasinya cukup laris manis. Kini, ia sudah punya empat warung ramen di jagakarsa dan Depok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s