AVONTUR | KULINER

MENDADAK RAMEN

HilariusJourney.wordpress.com – TENGOKLAH Di kawasan Depok, Jawa Barat, Warung-warung ramen atau mi jepang mudah ditemui hingga ke sudut-sudut kota. Ada yang hadir di mal, ada yagn di ruko pinggir jalan. Bahkan, beberapa kedai ramen jgua tumbuh di perkampungan kos-kosan mahasiswa di daerah Kukusan, Depok, belakang Kampus UI. Namanya warung Yokina Ramen.

Warung ramen lesehan menjadi salah satu tmepat nongkrong favorit mahasiswa Depok saat ini. Setiap hari, warung tersebut ramai pengunjung. Selain makan, mereka mengerjakan tugas kuliah di sana.

Sore itu, Crhisto (20) dan Gisela (19), keduanya mahasiswa FE UI, duduk dengan laptop masing-masing di sebuah meja. Mereka mengaku biasa datang ke warung itu antara pukul 14.00 dan pukul 17.00 “Kami bisa dapat potongan harga sampai 30%. Tempat ini juga nyaman dan ada Wi-Fi gratis,” ujar Christo.

Harga ramen di sekitar Depok bervariasi. Ramen di kelas kedai atau warung harganya 17K-27K semangkuk. Untuk kelas restoran yang ruangnya nyaman dan adem, harga ramen dipatok rata-rata 50K per mangkok.

Kedai-kedai ramen juga tumbuh di sekitar Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Tak jauh dari Universitas Pamulang, Tangsel, Banten, ada warung Osaka Ramen. Warung itu berada di sebuah lahan yang dirancang sebagai food court.

Hampir setiap malam, terutama malam Minggu, warung itu cukup ramai dikunjungi pembeli, terutama mahasiswa. Warung ramen itu besaing dengan warung ayam bakar, pecel lele, dan kedai kuliner lainnya.

Di Jakarta, ramen muncul di pusat perbelanjaan dan pusat jajanan, seperti Kelapa Gading di Jakut dan Kebayoran Baru, Jaksel. Hal serupa terjadi di kota lain, seperti Bandung dan Yogyakarta. Pasar yang mereka sasar kebanyakan hampir sama, yakni anak muda dan mahasiswa.

Pemburu Ramen

mendadak ramen1Mengapa anak-anak muda kini gandrung ramen? Christo, mahasiswa UI, mengaku kenal ramen gara-gara sering nonton film kartun Jepang yagn sering memperlihatkan orang maken ramen. Dari situ, ia tertarik mencicipi ramen. Setelah itu, ia ketagihan.

Rini, mahasiswa Unpam, mengatakan, “Ramen bikin ketagihan karena kuahnya itu lho. Rasanya gimana gitu?”

Menurut dia, ramen beda sekali dengan mi ayam biasa. Ramen lebih rame dengan aneka taburan alias toping. Gara-gara itulah, Rani jadi rajin makan ramen.

Livia Anggaraeni, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Strateigc Comunication Universitas Pancasila, Jakarta, mengenal ramen sejak SMP. Belakangan, ia menjadi pemburu ramen yang gigih. Ia rela keliling Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang demi mencari ramen yang maknyus.

“Aku nyobain segala macam ramen. Setiap tempat palign Cuma beda cara penyajian dan tempatnya, fasilitas, dan kualitas bumbunya aja,” lanjtunya seusai menyantap Ramen with chicken karaage di warung Yokina Ramen Kukusan.

Dinda Sandar Putri (22), teman sekampus Livia, juga mengaku mengenal ramen sejak SMP. Namun, dia mulai doyan maka nramen sejak SMA. Wilayah perburuan ramennya tidak jauh-jauh di seputar Depok. Tempat favoirtnya adal sheubah warung ramen di Mal Margo city.

Jika bosan makan di situ, ia berselancar di Internet untuk emncari warung makan ramen lainnya. “Setelah dapat, gue rasain dan nilai sendiri. Meski dapat ramen mahal tapi enak, it’s ok! Gue bakal lanjut makan ramen di tempat itu lagi,” ujarnya.

Orisinal vs setan

Bagaimana sih di negeri asalnya” di Jepang, ramen punya sejarah panjang. Mi bestruktur kenyal itu asalnya dari China, lantas di bawa ke Jepang.

Menurut Slyvia Wijaya, pemilik restoran Wabito Ya Ramen di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta, ramen mulai ada di Jepang pada tahu n1665. Manun ,saat itu ramen belum terlalu populer. “Baru sekitar tahun 1872 ramen mulai berkembang di Jepang sesuai dengan daerah masing-masing sehignga menajdi makanan ‘asli’ negara ini.” Ujar Sylvia yang balajar membaur ramen dari pembuatnya di Jepang.

Dulu, lanjut Slyvia, ramen dijajakan dengan gerobak. Sejak 1920-an, ramen mulai dijajakan di kedai permanen lalu merambat ke restoran. “Sejak saat itu ramen berkembang dengan cita rasa orang Jepang dan sesuai dengna gaya pemilik kedai-kedai itu sendri,” tambahnya.

Ramen pun jadi sangat populer. Saking populernya samap ada museum ramen di shin Yokohama.

Belakangan, popularitas ramen merembes ke luar negeri, termasuk Indonesia. Kalau di Jepang, ramen bermula di gerobak lalu merambah ke kedai. Sementara di Indonesia malah terbalik. Ramen mula-mula hadir di restoran Jepang kemudian turun ke warung-warung sederhana, hingga “terdampar” di gerobak. Nah, ramen yang dijajakan di gerobak bisa ditemukan di sekitara UnPam.

Variasi ramen di Indonesia juga berkembang sesuai dengan selera konsumen. Ada restoran atau kedai yang menjual ramen dengan cita rasa orisinal, misalnya dengan pilihan kuah shoyu, miso, kari, dan goma  shio. Segagian penjual ramen berreasi dengan memasukkan cita ras orang Indonesia. Maka, lahirlah ramen setan.

Kata setan dipakai untuk menggambarkan ras ramen yang super pedas. Sam seperti rawon super pedas yang disebut rawon setan atau sambal super pedas yang disebut sambal setan. Rupanay orang Indonesia senang membuat nama setan untuk menamai makanan.

Ramen setan memiliki level pedas yang berbeda-beda. Dari yang sekadar bin muut “huh han” hingga membuat muut terasa terbakar. Hampir pasti badan akan bercucuran keringat setelah menyantap ramen model itu.

Salah satu warung ramen setan yang cukup ramai ada di sekitar perumahan BSD, Banten. Lokasinya tidak jauh dari sekolah Stella Maris dan Saint John. Penggemar ramen setan di sana bukan hanya anak-anak sekolah, melainkan juga para penghuni perumahan.

Rahadi Basuki, pemilik warlaba Osaka ramen dan ramen setan, mengaku terus bergerilya untuk mempopulerkan ramen setan melalui media sosial. Hasilnya cukup menggembirakan. Tahun 2017 ini, Gerai Ramen Setan yang didirikan sudah 15 buah, tersebar di Jakarta, Palangkaraya (Kalteng), da Bali. Sebentar lagi akan hadir juga di Kendari (Sulawesi Tenggara).

Sebelum jualan ramen, Rahadi awlanya jualan mi ayam. Pada 2013, ia mulai merintis usaha Osaka Ramen. Tiga tahun kemudian, ia mengembangkan ramen setan.

Ia yakin, bisnis ramen akan terus berkembang di Indonesia. Soal kuliner, lanjut Rahardi, koseumen Indonesia masih menginginkan sesuatu yang baru, terutama yang berbau asing.

Pasar yann dianggap sangat prospektif untuk digarap adalah anak muda dan mahasiswa. Makanya, banyak warung ramen bertebaran di sekitar kampus dan tempat nongkrong anak muda. Ya, kira-kira begitulah catatan di balik cerita banyak kaum muda yang mendadak gandrung sama ramen asal Jepang itu. [*/hilairusjourney.wordpress.com |Sumber : kompas ,Jumat, 17 Maret 2017 | Oleh : SOELASTRI SOEKIRNO/STEFANUS OSA TRIYATNA]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s