GAYA HIDUP | FIGUR-Yenny Menyusun Semesta

HilariusJourney.wordpress.comMENGANTONGI belasan hak cipta, Yenny menguasai teknologi nano dan terbiasa bekerja dengan rekayasa pada obyek penelitian berukuran superkecil, yaitu paa kisaran nanometer atau sepersemiliar meter. Skala itu sama dengan diameter rambut manusia yang bidagi menjadi 80.000. Bekerja pada skala nano memungkinkan peneliti merekayasa dan membentuk elemen baru.

“Orang ramai-ramai ke teknologi nano. Teknologi yang menyusun ulang segala sesuatu dalam ukuran nano,” kata Yenny yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Kimia, LIPI dan risetnya baru saja meraih penghargaan sains teknologi dan matematikan dari L’Oreal UNESCO for Women in Science National Fellowship Awards 2016.

Di sela-sela penelitian serius, seperti penggunaan teknologi nano untuk obat anti-malaria, obat anti-selulit, hingga petisida alami, Yenny tak lupa bersenang-senang. Tahu betul tentang bahan kimiawi mana yang berbahaya dan bahan kimiawi yang aman, ia lantas banyak berkreasi menciptakan produk-produk aman dengan teknologi nano bagi keseharian keluarganya.

Dengan prinsip bahwa bahan alamiah yang telah dikonsumsi bertahun-tahun oleh nenek moyang cenderung lebih aman, ia antara lain menciptakan sendiri beragam kosmetik, tabir surya, pelembab tubuh, lotion anti-nyamuk, hingga lipstick. “Yang alami biasanya aman, tetapi orang enggak sabar. Efeknya memang enggak secepat bahan kimia. Pemutih tiga hari sudah putih. Itu apa bahan kimianya? Orang enggak sabar,” katanya.
dari ekstrak tomat, bengkuang, dan delima, misalnya Yenny mengolahnya menjadi pemutih kulit. Dari hasil uji di laboratorium, efek dari pemutih tersebut baru bisa dirasakan setelah tiga bulan, itu pun tak sedahsyat jika memakai produk pemutih yang banyak dijumpai di pasaran. Ia juga membuat tabir surya dari ekstrak mulberi, tomat, dan manggis. Lipstick pun dibuat dari lilin lebah dengan pewarna umbi bit, buah naga, atau paprika.

Selain itu, ia membuat obat anti-peneuan dari ekstrak minyak jamur tempe. “Tetapi harus menggunakan bahan pendispersi dan polimer, tetapi dari bahan yang saya tahu aman. Harus menggunakan teknologi nano supaya wajah enggak cemong-cemong. Kita bikin sendiri daripada memakai pemutih yang menggunakan merkuri,” kata Yenny.

Ia juga membuat pupuk dan pestisida untuk berkebun yang aman di rumah. “Kadang khawatir. Ketika anak pulang dengan jajanan warna merah menyala. Tetapi wajah bahagia. Mainan dan jajanan menjadi salah satu bagian sosialisasi. Kalau dilarang, kasihan secara psikologis. Bisanya hanya mengurangi dan menghindari,” ujarnya.

Obat anti-malaria

Yenny Meliana – Head of Technology Management and Dissemination Division, Pusat Penelitian Kimia LIPI

Di bidang kimia, dengan memanipulasi pada skala nano, kemampuan reaksi molekul kimia menjadi lebih efisien sehingga mampu menghasilkan bahan kimia yang efektif, bersifat kahs, dan tahan lama. Yenny lantas menunjukkan perhiasana perak yang dipakainya. Fungsi perak itu bisa berubah drastic menjadi anti-mikroba yang sangat efekfti ketika diolah dalam wujud nanosilver yang transparan.

Pekerjaan yang dilakoni peneliti seperti Yenny dalam rekayasa atom-atom yang membentuk molekul tergolong sangat rumit karena manusia cenderung terlalu besar jika dibandingkan dengan atom-atom tersebut. “Saya kerjaannya hanay sebagai tukang ngaduk-ngaduk,” ujar Yenny, yang memiliki keahlian sepsifik di bidang nanoemulsi dan nanodispersi ini sembari merendah.

Ditemu dikawasan puspitek serpong, Yenny yang mruah senyum mengajak berkeliling ke laboratorium Pusat Penelitian Kimia. Saat ini, ia sedang sibuk menyelesaikan tahap akhir dari rangkaian penelitian yang sudah dimulaisejak 2014 untuk pembuatan nanokristal bahan baku obat anti-malaria dengan kombinasi berbasis artemisnin.

Artemisinin merupakan zat aktif yang bisa diambil dari ekstrasi tanaman perdu artemisin yang berasal dari china. Obat artemisinin ini terbukti ampuh sebagai pendamping obat kina yang saat ini sudah mulai berkurang daya ampuhnya. Namun, artemisinin ternyata tidak larut dalam air sehingga sulit diserap tubh. Dengan teknologi nano, artemisinin diubah menjadi dihidroartemisinin.

“Yang menjadi masalah adalah biaya untuk menurunkan dari artemesinin ke dihidroartemisinin ini malal banget. Say sudah punya bayangan teknologinya untuk membuat suatu produk lebih suka air. Jadi, saya leibh percaya diri. Saya bisa bantu di sini,” kata Yenny yang bergabung dalam konsorsium anti-malaria yang terdiri dari kementerian kesehatan, LIPI, kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan, perguruan tinggi, serta industry farmasi.

Yenny lantas mengotak-atik artemisinin menggunakan teknologi nanodispersi agar lebih larut dalam air dengan biaya yang lebih murah. artemisinin diolah menjadi nanopartikel dengna memakai mesin pencampur ultrasonic (ultrasonic homogenizer), pengering beku (freeze drying), dan mesin penggilingan basah (wet milling). Dengan proses disperse, Kristal artemisini yang sudah berukuran nano diurai agar tak menggumpal.

“Itu doing sih ya pekerjaannya. Karena kita otak-atik harus diuji klinis lagi dan iuji keaktifannya. Sudah ada perusahaan farmasi multinasional yang siap menampung teknologi kita,” katanya.

PEREMPUAN peneliti tergolong makhluk langka dengan persentase hanya sekitar 30%. Satu di antaranya Dr Yenny Meliana (40). Betah seharian berkutat dengan tabung bejana di laboratorium, ia tak lantas menjadi kaku dan serius. Tawanya renyah dan keramahannya membuat orang-orang betah berada di dekatnya.

Jatuh hati

Selain obat anti-malaria, obat anti-selulit yang juga merupakan hasil penelitian Yenny juga sudah mulai uji pasar untuk nantinya bisa dijula bagi masyarakat umu. Selain menggunakan bahan baku alami, obat anti-selulit ini diracik dari ekstrak pegagan dan jahe yang dibuat dengan proses nanoemulsi. Proses ini efektif agar obat tersebut bisa akftif menjangakau selulit yang terletak di bawah kulit sehingga ampuh mengembalikan elastisitas kulit.

Sebauh perusahaan obat rintisan sudah tertarik dengna produk anti selulit yang ditelliti sejak tahun 2012. “Mereka mau mencoba karena kalau peneliti yang mengerjakan, datanya pati komplet karena mengerjakan dari ujung ke ujung. Sementara kalau industry, baru terbukti 40% saja sudah berani launching. Mau data uji kulit menebal berapa sentimeter ke tiku ataupun uji ke manusia. Saya punya,” katanya.

Tumbuh besar di lembah yang dikelilingi pegunungan di pedalaman Bengkulu, Yenny yang meneybut dirinya anak gunung ini memagn terbiasa hidup dekat dengan alam. Karena itu, ia selalu mengutamakan bahan baku alamiah dalam seitap penelitiannya. Lulusan S-3 dari National Taiwan University of Science and Technology di bidang teknik kimia ini jatuh hati menjadi peneliti sejak bergabung dengan LIPI pada 2005.

Baginya, ilmu kimia sejatinya adal ahilmu yang absurd. Penasaran terhadap manfaat dari rumus-rumus kimia, ia lantas memperdalam ilmu kimia dan mengabadikan diri sebagai peneliti. Dari 100 penelitian, biasanya ada 90 penelitian yang gagal. Dari kegagalan itu, ia justru belajar ilmu baru untuk keberhasilan penelitian selanjutnya.

“Saya takjub sam diri sendiri. Kok bisa betah di laboratorium. Menjadi peneliti juga melatih jadi lebih sabar. Kalau terjadi sesuatua lebih bertanya kenapa terjadi begini. Psati ada sebag akibatnya. Lebih menahan diri, enggak gampak ekspresif,” kata Yenny yang tak lelah menyusun ulang semesta lewat teknologi nano. [*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber : Kompas, Minggu16 April 2017 | Oleh : Mawar Kusuma]

TAGS :

DESCRIPTION : 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s