AVONTUR | Kuliner – Menyesap Kopi Bersama Gogh

Bayangkan duduk di sebuah kedai, menyesap secangkir kopi ditemani maestro seni lukis Vincent van Gogh di Jakarta yang hiruk pikuk. Alangkah surealnya. Di Douwe Egberts, secangkir kopi dan kudapan khas Belanda, membuat waktu terasa lesap tak bergegas, terjerat nostalgia

HilariusJourney.wordpress.comTENTU tak ada lagi Van Gogh. Yang ada hanya karnyanya yang diabadikan dalam sebuah cangkir, menjadi muara bagi biji kopi terbaik yang diracik tangan-tangan terampil barista di Douwe Egberts (DE), kedai kopi asal Belanda yang baru membuka kedai pertamanya di Mal Gandaria City, Jakarta, Maret lalu.

#Lazzy Noon

Salah satunya adalah “Amandelbloesem” yang dilukis Gogh tahun 1890. Lukisan cat minyak itu menggambarkan pohon almon yang terngah berbunga, di lukis oleh Gogh demi melambangkan hidup baru yang penuh harapan menyambut kelahiran keponakan kecilnya. Dari tangannya lahir 14 lukisan dari tema tentang almon yang tengah berbunga itu.

Warna hijau lembut yang mendominasi “Amandelbloesem”, melatari salash atu cangkir kopi DE. Di sisi atas bagian dalam cangkir, tertulis judul lukisan dan nama Goh, lengkap dengan tahun pembuatannya. Menghadirkan tampilan yang tak hanay artistic, tetapi juga estetik.

Keindahan karya Gogh itu berpadu dengna kopi kualitas terbaik racikan DE yang dihasilkan dari biji-biji kopi dari perkebunana kopi bersertifikat UTZ di sejumlah negara. Saat ini, kopi yang digunakan di kedai DE Mal Gandaria city merupakan campuran biji kopi dari Kolombia, Brasil, India, Eropa, dan Indonesia (Lampung). Komposisinya, arabaika 85%, robusta 15%, di-roasting di Australia.

Di dalam cangkir amandelbloesem, secangkir kopi tersesap nikmat dengan aroma dan jejak kopi yang kuat. Cita rasanya kaya, seperti perpaduan antara susu yang manis, cokelat, dan madu, berkelindan dengan keindahan amandelbloesem. Layaknya karya seni sang maestro, kopi kualitas terbaik yang diracik tangan-tangan terampil barista pun merupakan karya seni bernilai tinggi.

Di cangkri lainnya, ada karya maestro lukis Belanda Johannes Vermeer melalui karyanya “Meisje met de parel” (Girl with a Pearl Earing) yang dilukis tahun 1665. Kecantikan “Meisje met de parel” tampil feminine dalam cangkir berlatar merah muda.

Menyesap kopi dari cangkir-cangkir bermotif karya maestro menajdi salah satu daya tarik DE, selain mengusugn interior gaya Belanda. Salah atunya dengan hiasan kincir angin berukuran besar di langit-langit.

Padauan keduanya membangkitkan aura nostalgia tentang sejarah Indonesia-Belanda yang memiliki jejak panjagn di Tanah Air. Menu-menu khas Belanda yang disajikan menggenapi nostalgia ini.

Kopi “fusion”

#Stropwaffe Caramel Latte

Bagi penggemar kopi, racika nkopi klasik, seperti espresso, cappuccino, americanao, yang disebut lungo, dan caffe late tetap disajikan. Namun, DE juga menyediakan pilihan dengna kreasi-kreasi kopi yang lebih ke arah fusion, seperti stroofwafel caramel latte, lazzy noon, heavenly hasel, mellow morning, dan cappuccino maple.

“Lazy moon ini sebenarnya kayak mocca, basic-nya espresso. Bedanya powder-nya pakai capupuccino sehingga rasa kopinya masih kuat. Kadang kalau mocca kan kemanisan, jadi hilang rasa kopinya,” ungkap pemilik DE Mal Gandaria City, Adinda Nesvia.

Khusus untuk stroofwager caramel latte yang sangat khas Belanda, disajikan dengan modifikasi dari menu serupa yang ada di DE di Belanda. “Kalau lihat dari market, caramel latte lumayan disukai di Indonesia. Jadi, dibikin jadi stroofwafel dengan campuran shipped cream,” tambah Adinda. Di kedai aslinya ,stroffwafer caramel latte disajikan degnan citar rasa lebih kopi yang lebih kuat.

Berbagai pilihan menu yang tersedia, bias menjadi teman saat menyesap kopi. Mulai dari croissant, bagel, apple tart dan dutch bitterbalen yang sangat khas Belanda. Ada juga pilihan berbagai jenis sandwich isi ayam, ikan salmon dan tuna, serta daging sapi.

Cobalah apple tart ala DE yang memadukan antara sisi luar apple tart yang renyah garing dan caramel dan raisin, dan bagian dalam apple tart yang hangat dan lembut. Nikmati kelezatannya dengan paduan es krim vanilla yang memberi sensasi dingin. Meski tercecap kaya rasa, apple tart ini menyuguhkan rasa manis yang pas, tidak berlebihan sehignga tidak membuat enek.

Khusus untuk kudapan-kudapan yang sangat Belanda, peraciknya adalah tangan-tangan yang memiliki relasi dengan Belanda sehingga otentitas rasanya tetap terjaga dengan baik, seperti stroofwafe dan bitterbalen.

#Dutch Bitterballen

“Bitterbalen ini kan Belanda banget. Bahannya dari kentang, tetapi di sini kita sajikan beberapa variasi. Ada yang pakai keju mozzarella, cheddar, can smoke beef,” kata Adinda. Disantap saat hangat, bitterballen terasa sungguh sedap dengan tekstur kentang yang lembut, meleleh di mulut.

Jika memilih sandwich, ada grilled chicken baguette bread. Sandwich isi ayam ini cita rasanya segar, dipadu dengan salad sayuran dan tomat ceri.

“Daging ayamnya akan teras asam segar karena di-infused menggunakan lemon, lalu direndam beberapa jam untuk mengahsilkan cita rasaasam segar yang kuat. Paduannya sayuran dan tomat ceri dengan kentang goreng karena memang orang Belanda sangat senang makan kentang. Di sana biasanya ditambah irisan bawang bombai,” terang Adinda yang sempat menimba ilmu di Belanda.

Pilihan lainnya adalah steak sandwich ciabatta. Berupa daging sapi bagia ndalam yagn dipadu dengan bawang yang sudah dikaramelisasi sehingga terasa manis, jamur dan keju mozzarella.

“Tinggal selera saja sih mau pilih yang mana,” kata Adinda.

Menurut Adinda, DE sengaja dihadirkan di Jakarta untuk meramaikan pasar kopi yang tengah berkembang di Indonesia. Kultur kopi orang Indonesia yang semula didominasi kopi-kopi sachet, kin perlahan mulai bergeser. Banyak orang mulai pergi ke kedai kopi untuk menikmati kopi.
“Dalam 5 tahun ke depan kayaknya masih akan terus berkembang,” ujar Adinda.

Sebaliknya, di Belanda, kopi telah menjadi semacam ritual yang juga menjadi bagian hidup sehari-hari. Warga belanda, ungkap Adinda, umumnya sangat menikmati ritual minum kopi.

“Aku suka lifestyle kopinya. Orang di sana tuh menikmati banget ngopi sambil ngobrol sama temen, nikmati cake. Seperti sudah jadi bagian sehari-hari. Jadi pagi pasti ngopi, sore ngopi lagi. Memang sudah jadi ritual,” ungkap Adinda.

Warga Belanda pun menikmati kopi dengan makanan keicl yang sederhana, contohnya kroket dan bitterballen.

“Di sini kan makanan itu terkenal juga karena ada relasi sejarah. Jadi, orang Indonesia juga enggak asing dengan makanan-makanan itu,” kata Adinda. Demi alasan nostalgia itu, Adinda membawa DE ke Jakrta. [*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber : Kompas, Minggu 16 April 2017 |Oleh : DWI AS SETIANINGSIH]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s