SOSOK |Ina Wiyandhini – Kesabaran Si Ratu Kue

Nama Ina Wiyandini (53) berkibar sebagai pembuat kue kering bermerek Ina cookis. Di sela kesibukannya berbisnis, kegiatan sosial yagn ia lakukan tak kalah beragam dibandingkan dengan kue kering buatannya.

HilariusJourney.wordpress.com – TELEPON genggam Ina tak berhenti bordering saat ditemui di Restoran De Tuik Resto and Resort, Kota Bandung, Jabar, awal Mei lalu. Beberapa pembicaraan singkat dilakoni silih berganti di restoran berlatar belakang dataran tinggi Bandung,m iliknya itu. “Sebentar ya, obrolannya dipotong. Saya menyiapkan duli beberapa kegiatan sosial dan pengajian,” ujar Ina ramah.
Asisten pribadi Ina, Santi, lantas mengisi kekosongan dengan sedikit penjelasan. “Bu, Ina itu sangat aktif. Selain jadi ratu kue kering, mungkin dia juga ratu kegiatan sosial.”
Pada 2014, ia mendirikan Sekolah Pelangi. Itu adal hsekolah gratis bagi anak-anak autis yang ada di Bandung pendirian sekolah itu diinspiriasi oleh kisah hidup Rina, anak tetangga Ina. “Karena autis, Rina seperti terasing dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dia suka berteriak dan suka menggigit siapa saja. Orangtuanya bekerjas ebagai petani dengan penghasilan minim. Mereka tidak tahu bagaimana merawat Rina,” kata Ina.
Saat ini, ada 15 anak autis berusia delapan tahun ke atas yagn sekolah di Sekolah Pelangi. Bukan hanay jadi penyandang dana, di waktu luangnya, Ina turun langsung memberikan pelajaran sederhana tentang pendidikan agama dan wirausaha. “Momen terbaik selama sekolah ini berdiri adalah saat Rina akhirnya memanggil saya ibu dengan emosi yang lebih tenang. Jauh berbeda saat pertama kali saya mengenal dia. Dia jadi inspirasi saya terus melanjutkan karya ini.”
jejak kegiatan sosial Ina lainnya terliaht di banyak tempat. Rabu (17/5), ia sukses menggelar pernikahan massal 14 pasangan tunanetra di acara Mimbar Hiburan Amal Bagi dan Duafa 2017 di Bandung. Sejak lama, ia ingin berkontribusi membangun rumah tangga sakinah bagi para difabel. Pernikahan massal itu disaksikan sekitar 1.000 penyandang tunanetra yang diundang.
Dana untuk kegiatan sosial Ina diambil dari keuntungan bisnis kue kering yang ia bangun dengna susah payah selama bertahun-tahun. Ia menceritakannya secara runut.
Ratu kue kering
Ina tak pernah membayangkan akan menekuni bisnis kue kering. Lulusa dari Jurusan Bahasa Jepang ABA pada 1985, Ina bekerja di salah satu perusahaan mobil asal Jepang. Dua tahun kemudian, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya karena mesti menemani suami yang bertugas di Aceh.
Di “Tanah Serambi Mekah” itu, ia lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga. Baru pada 1990, saat pindah ke Cirebon, Jabar, ia berkenalan dengna dunia kue. Ia tak langsung menjadi pembuat kue, tetapi menjadi pemasok jahe untuk kue. Pelanggan utamanya adalah produsen kue jahe di Jepang. Untuk melayani permintaan pasar, ia menanam jahe di kebun seluas 13 ha dengan 500 pekerja.
Namun, usia bisnis itu ternyata tidak lama. Usahanya kandas setahun kemudian karena pelanggan utamanye menghentikan kerja sama. Mereka beralih membeli jahe ke petani di Thailand dengan alasan ongkos pengirimannya dari “Negeri Gajah Putih” ke Jepang lebih murah.
Akibat penghentian kerja sama itu, Ina merugi puluhan juta rupiah. Para pekerja kebun jahe pun kehilangan pekerjaan. Akan tetapi, Ina tak menyerah. Kegagalan justru melecut semangatnya untuk bangkit. Beragam peluang ia kerjakan mulai berjualan tomat di pinggir Lapangan Gasibu, Bandung. Hasilnya tidak banyak. Sering kali sehari ia hanya mampu menjual 5 kg.
Karena hasilnya kurang memuaskan, ia mencoba berjualan beras. Bisnis ini pun tak berlangsung lama lantara ia tertipu pelanggan. Selain itu, banyak pituang kepada konsumen yang tak bisa ia tagih. “Saya hanya bisa sabar dan berdoa, Allah kelak pasti memberikan jalan,” kenang Ina.
Tahun 1992, pintu untuk memulai bisnis baru mulai terbuka lagi. Ia ditawari kakak iparnya untuk berlajar kue kering. Lantaran hobi memasak, ia segera menguasai teknik membuat aneka kue kering, di antaranya kastengel, nastar, putrid salju, cokelat mede, can cornflake putih.
Selanjutnya, ia mulai memberanikan diri menjual kering buatannya. Dalam keadaan mengandung anak ke dua, ia jajakan kue kering buatannya dari rumah ke rumah. Awalnya ia diejek ole htetangga.
Mereka bilang, eksportir jahe gajah ke Jepang sekarang jadi pedagang keliling kue kering,” kenang Ina.
Ina tidak mau menyerah. Kata itu tak ada dalam kamus hidupnya. Ejekan dan cemoohan tetangga malah memicu semangatnya untuk membuktikan ia mampu. Kreativitasnya juga meningkat. Salah satunya membuat kue beraneka warna yang sukses memikat pelanggan.
Dia memberika nama pada seitap kue buatannya. Ie mencontohkan “Putri Unik” untuk kue nastar berbahan ketan hitam. Kue teranyar ia beri nama “Putri Moana” yang diambi ldari karakter film animasi yagn beberapa bulan lalu di putar di banyak bioskop. “Inovasi itu jadi daya tawar yang menarik bagi anak-anak maupun orangtuanya,” ujar Ina.
Setelah melewati berbagai cobaan seperti tertipu dan nyaris bangkrut, usaha kue kering Ina akhirnya berkibar. “Manis atau pahit pengalaman hidup membaut saya lebih kuat,” ujarnya.
Saat ini, ia memproduksi 145 jenis kue kering yang dijual ke 18 kota. Dari situ, ia merambah bisnis restoran, toko kue, dan kafe. Bisnis Ina melibatkan sekitar 1.000 karyawan. Keberhasilannya membuat Ina dijuluki “Ratu Kue Kering”.
Setelah bisnisnya berkibar, Ina tak lupa berbagai. Ia memberangkatkan karyawannya untuk umrah secara rutin dan rajin menggelar berbagai kegiatan sosial. Ida mendapat julukan baru dari orang-orang dekatnya ; “Ratu Kegiatan Sosial”. “Kita hidup harus bermanfaat bagi banyak orang. Bagi saya, hidup jangan hanya berbisnis, tapi bersyukur kepada Allah.”
“Moto hidup saya adalah ‘jus koki’. Hidup itu harus jujur, ulet, sabar, komunikatif, optimistis, berkomitmen, dan ikhlas. Itu akan terus saya jaga karena semuanya adalah kunci kesuksesan saya,” katanya. [*/hilariusjourney.wordpress.com | Sumber : Kompas, Sabtu 20 mei 2017 | Oleh : B Krisna Yogatama ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s