GERABAH yang Makin Memikat

HilariusJourney.wordpress.comPADA dasarnya, saya adalah pencinta proses. Setiap kali menemukan produk-produk seni tradisional, termasuk gerabah, di situ selalu ada proses,” kata Lola.

#Ragam gerabah dalam Pameran Kerajinan Gerabah “Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat” di Bentara Budaya.

Dalam pameran dan sekaligus bazaar itu, mudah saja bagi Lola untuk menentukan pilihan gerabahnya. Lola menikmati berbagai corak terbagah dan menerka-nerka fugnsinya. Setelah yakin akan fungsinya, ia menyesuaikan pilihan sesuai kebutuhan.

“Saya mengelola sebuah restoran yang menyajikan masakan khas Nusantara. Saya menentukan perabot yang saya pakai di restor terbuat dari gerabah,” kata Lola.

Lola menghampiri ruang pajang gerabah karya Mamat dari Pagerjurang, Bayat, Klaten. Lalu memilih empat corak gerabah yang berfungsi sebagai piring besar. Ia memesan tiga buah utnuk masing-masing corak tersebut.

Lola memilih gerabah piring besar dengan empat corak yang meliputi corak cangkang kerang, daun pisang, serta dua corak daun papaya. Beberapa motif gerabagn Pagerjurang lainnya berbentuk kendi, gentong, pot bunga, panci ketel, anglo, dengan berbagai ukuran.

Ini sedikit beda dengan yang ditampilkan perajin dari Sitiwinangun walaupun bentuk-bentuk gerabah konvensional ada yang mirip dengan yang ditampilkan perajin Pagerjurang. Motif gerabah Sitiwinangun banyak pula ditampilkan berupa patung figure. Ada patung figure para punakawan dalam kisah wayang purba. Ada patung figure kontemporer, antara lain figure manusia banyak yang saling bertumpukan dmei meraih kursi. Kursi itu terletak di puncak tumpukan manusia tadi.

Ada pula patung dengan figure perempuan cantik dari Sitiwinangun itu dicat warna-warni. Posisinya pun didudukkan pada kursi rotan berukuran mini.

Desa wisata

#Perjain gerabah asal Duseun Pagerjurang, Desa Bayat, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawagtengah.

Pada pembukaan pameran itu, hadir Sultan Sepuh Xiv Keraton Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. Ketika ditanya perihal cara menikmati gerabah, Natadingingrat mengatakan hal senada dengan Lola.

“Kita harus tahu terlebih dahulu fungsi dari gerabah sebelum memilikinya,” ujar Natadiningrat.

Natadiningrat mendorong  Sitiwinangun menjadi desa wisata khusus gerabah di Cerebon. Seperti batik Trusmi di Cirebon, mendahului ketenaran gerabah Sitiwinangun.

“Pada tahun 2016, perajin gerabah di Sitiwinangun tinggal 34 orang. Tadinya, pernah mencapai 1000 perajin gerabah di Sitiwinangun,” kata Natadiningrat.

Gerabah Sitiwinangun di era 1970-an memiliki masa kejayaannya. Jumlah perajinnya mencapai 1.000 orang. Kepala Desa Sitiwinangun mengakui hal itu.

“Pada tahun 1970-an, memang banyak sekali perajin yagn membuat gerabah di Sitiwinangun. Tetapi, kemudian jumlahnya erus menipis sampai sekarang,” kata Ratjia.

Natadiningrat memotivasi warga Desa Sitiwinangun untuk memproduksi gerabah. “Setiap kali ada tam upejabat pemerintah pusat atau pejabat lainya ke keraton ,selalu saya ajak untuk mengunjungi Desa Sitiwinangun,” ujarnya.

Rumsani (37), warga Desa Sitiwinangun, tampak sibuk pada malam pembukaan pameran gerabah itu. Di selasar Bentar Budaya Jakarta, Rumsani menjajakan kastrol berisi tape ketan.

“Kastrol ini pada masa kecil saya masi hdipakai utnuk menanak nasi. Nasinya lebih enak. Ada intip atau kerak nasinya juga,” kata Rumsani.

Rumsani menyuguhkan gerabah dengan fungsi yang nyata. Gerabah berbentuk panci atau ketel nasi itu untuk wadah tape ketan. Tape ketan itu dibungkus dengan daun pisang.

Sebanyak 13 bungkus tape ketan ditempatkan ke dalam satu kastrol. Rumsani menjualnay dengna harga rp 50.000 per biji.

“Saya membawa sekitar 100 kastrol tape ketan dari Sitiwinangun,” kata Rumsani.

Pembeli, selain dapat menikmati tape beras ketan, jgua dapat memanfaatkan wadahnya untuk memasak.

Kastrol banyak diproduksi di Sitiwinangun. Ketel cilik itu dilengkapi dnegna penutupnya. Ada tali dari eceng gondok yagn dirajut sebagai tali penenteng kastrol.

Proses membentuk gerabah dengan tanah liat memang tidak memakan banyak waktu. Di tengah pembukaan paemran gerabah, Sarmini (45), warga Duseun Pagerjurang, Desa Bayat, mempraktikan cara pembuatannya dena meja putar miring.

“Ini tidak sampai setengah jam, bisa jadi 15 gerabah. Ada kendi, pot, dan vas bunga,” ujar SArmini.

Meja putar mriign merupakan kekhasan proses pembuatan gerabah dari BAyat. Sala hsatu perajin gerabah dari Bayat lainnya, Antonius Triyanto, mengatakan, meja putar miring dari Bayat ini tergolong satu-satunya tekrnik pembuatan gerabah yang tesisa di dunia.

“Hal ini saya dengar sendiri dari peneliti gerabah dari Jepang, Professor Chitaru Kawasaki,” kata Triyanto.

Ekspor ke Belanda

#Pembukaan pameran gerabah ”Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat” di Bentara Budaya Jakarta.

Antonius Triyanto sebagai salah satu perajin gerabah di BAyat secara konsisten selama 15 tahun terakhri selalu mengekspor gerabah ke Belanda. Ia memulai mengekspornya sejak tahun 2002 sampai sekarang.

“Saya harus bisa menjaga kepercayaan importer dari Belanda itu. Mereka membeli gerabah kita utnuk dipasarkan di sejumlah negara di Eropa,” kata Triyanto.

Persaingan harga gerabah dari sesam peajinm enjadi tantangan bagi Triyanto. Importer bisa mengubah pilihan ketika menjumpai produk yang sama, tetapi harganya leibh murah.

“Saya mengatasi masalah ini dengan membaut kesepakatan seitap empat bula nsekali mengubah desain produk,” kata Triyanto.

Motif produk gerabah yang diekspor ke Belanda pada dasrnay mudah ditemui di Bayat sampai sekarang.  Triyanto sering mengubah-ubah perwarnaannya. Orang Eroap elbih menyukai warna alam, seperti warna tanah yang abu-abu. Termasuk, gerabah dengan tekstur alami itu seperti goresan-goresan kuas yang diperlihatkan di permukaan gerabah.

Pameran gerabah Antara Sitiwinangun dan pagerjuang Bayat sudah menyajikan proses kehidupan seni gerabah dari dua daerah tersebut. Kini, ia masih selalu menanti para pecintanya…[*/hilariusjourney.wordpress.com |Sumber : Kompas, Minggu9 April 2017 |Oleh : NAWA TUNGGAL]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s